Beranda » Berita » Daerah » Jawa Tengah & DIY » Tren DBD di Jateng Meningkat, Triwulan I 2024 Ada 3.283 Kasus, 90 Penderita Meninggal Dunia

Tren DBD di Jateng Meningkat, Triwulan I 2024 Ada 3.283 Kasus, 90 Penderita Meninggal Dunia

Melihat Indonesia

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Sepanjang triwulan I 2024, 90 penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jateng meninggal dunia.

Tren temuan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Tengah (Jateng) pada 2024 ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Hingga triwulan I 2024, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng mencatat ada 3.283 laporan kasus DBD, yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah.

Sementara pada 2023, sepanjang tahun jumlah kasus DBD di Jateng berada di angka sekitar 6.500 dengan 114 kasus kematian.

“Trennya meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang 2023 tercatat ada 6.500 kasus.”

“Sementara ini 2024, baru sampai bulan Maret atau triwulan I itu sudah 3.000-an,” kata kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Irma Makiah, Selasa (26/3/2024).

Namun, kata Irma, 3.283 kasus yang dilaporkan belum tentu semuanya merupakan DBD.

“Bisa jadi demam tinggi, karena faktor lainnya, tapi masuk laporan DBD,” ujarnya.

Irma memaparkan, peningkatan kasus DBD terjadi karena cuaca yang mendukung untuk perkembangan nyamuk aedes aegypti.

Ihwal wilayah dengan kasus DBD tertinggi di Jateng, menurut Irma, mayoritas berada di sekitar pantai utara (pantura).

“Secara umum di pantura ya. Kemarin kita melakukan studi epidemiologi di Jepara, banyak pos-pos rumah nyamuk,” paparnya.

90 pasien meninggal, mayoritas anak-anak

Dari 3.283 kasus yang tercatat, 90 pasien DBD di Jateng dilaporkan meninggal dunia.

“Kasus pasien DBD meninggal dunia tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng,” ujarnya.

Menurut dia, kasus penderita DBD meninggal terbanyak terjadi di Jepara, dengan 20 korban jiwa.

Disusul dengan Kabupaten Kendal, dengan catatan 15 penderita DBD meninggal dunia.

“Kasus meninggal terbanyak di Jepara 20 pasien, disusul Kendal 15 kasus. Meski, kalau dihitung jumlah kasus secara keseluruhan, terbanyak berada di Grobogan dengan 286 kasus dari total 3.000-an kasus di Jateng,” papar Irma.

Mayoritas penderita DBD yang meninggal adalah anak-anak, dengan rentang usia 5-14 tahun.

Karena itu, ia mengingatkan agar orangtua lebih waspada terhadap gejala DBD, terutama cara-cara pencegahan dengan memberi makanan bergizi dan istirahat yang cukup.

“Anak-anak itu lebih mudah jatuh ke syok. Anak-anak kadang nggak tahu ya kalau sakit untuk bilang atau apa. Jadi kepekaan orangtua sangat berpengaruh,” pungkasnya. (*)

Recent PostView All

Leave a Comment

Diterbitkan oleh PT. Gaspol Media Indonesia

Direktur: Rizky Kurniadi 

Pemimpin Redaksi : Roziki

Redaksi: Gita Timur, Fathurrahman, Mayda, Zashinta, Pangesti, Kiki, Nico 

Grafis: Immanullah, Wahyu 

Keuangan dan admin: Meyta, Yusrilia

Pemasaran dan Iklan: Nadiva, Krismonika

Kantor Pusat: Kagokan RT.01/RW.04, Gatak, Sukoharjo

Biro Jateng:  Jl Stonen Kavling 7A Kota Semarang

Telp: 0811313945

Email redaksi: redaksi@melihatindonesia.id 

Email iklan: iklan@melihatindonesia.id 

Copyright @ 2024 Melihat Indonesia. All Rights Reserved