Senin, April 27, 2026

Iklan Junk Food Biang Petaka: IDAI Desak Pemerintah Bertindak, Diabetes Anak Melonjak Gila-Gilaan

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Ancaman serius tengah mengintai generasi masa depan bangsa. Lonjakan drastis kasus diabetes pada anak-anak memicu peringatan keras dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa bahaya utama bukan sekadar pada makanan, tapi pada cara makanan itu dipasarkan.

Dalam pernyataannya, Piprim meminta pemerintah untuk segera membatasi iklan makanan cepat saji dan kudapan tinggi gula yang kini dengan mudah menyusupi layar-layar televisi hingga gawai anak-anak. “Batasi iklan junk food, tulis kandungan karbohidrat setara berapa gram gula, beri peringatan ‘Konsumsi berlebih bisa menyebabkan diabetes’,” katanya tegas.

Langkah preventif ini, menurutnya, harus menjadi kebijakan negara bila ingin memutus ledakan angka diabetes di usia dini. Ia juga mendorong penulisan label yang lebih jujur dan edukatif dalam kemasan makanan, termasuk susu, biskuit, dan minuman manis yang lazim dikonsumsi anak-anak.

“Konsumsi gula harian anak semestinya tak lebih dari 24 gram. Lebih dari itu, risikonya bisa sangat mengerikan,” imbuh Piprim.

Tak hanya pencegahan dari sisi makanan, Piprim menekankan bahwa perhatian pemerintah harus sampai pada penanganan medis. Untuk anak dengan diabetes melitus tipe 1, penyediaan insulin dan perangkat pemeriksaan gula darah secara mandiri merupakan kebutuhan mendesak.

“Tanpa alat pemeriksaan dan pasokan insulin yang memadai, risiko keterlambatan deteksi bisa berujung fatal,” ujarnya.

Peringatan IDAI ini bukan tanpa dasar. Data terbaru menunjukkan lonjakan kasus yang luar biasa. Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI, dr. Muhammad Faizi, mengungkap bahwa sejak tahun 2010 hingga 2023, kasus diabetes anak melonjak hingga 70 kali lipat.

“Dari data yang kami kumpulkan, ada 1.645 anak penderita diabetes. Tapi angka ini kemungkinan masih di bawah realita, karena belum semua terdeteksi,” ujar Faizi dalam konferensi pers daring.

Data tersebut dihimpun dari 15 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Medan, dan Palembang. Faizi menyebutkan, dua kota dengan laporan tertinggi adalah Jakarta dan Surabaya, menandakan bahwa urbanisasi dan gaya hidup di kota besar turut memperparah keadaan.

Namun demikian, angka riil kasus pada 2010 belum dijelaskan secara pasti oleh IDAI. Meski begitu, tren peningkatan ini cukup menjadi alarm keras bahwa Indonesia sedang menuju darurat kesehatan anak.

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena banyak orang tua yang belum memahami gejala diabetes tipe 1 maupun tipe 2 pada anak. Seringkali, anak-anak datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah kronis, karena gejala awal seperti sering haus, sering buang air kecil, dan cepat lelah diabaikan.

Banyak juga yang masih menganggap anak-anak ‘aman’ dari ancaman diabetes, padahal gaya hidup dan pola konsumsi gula berlebih sudah menggerogoti sejak usia dini. Ini diperparah dengan iklan-iklan yang menyasar psikologi anak lewat tayangan ceria, maskot lucu, dan narasi “energi instan”.

“Bayangkan, iklan makanan manis muncul hampir tiap jam di TV dan media digital. Anak-anak kita dibombardir sejak pagi hingga malam. Ini seperti menabur ranjau,” kata Piprim.

Untuk itu, IDAI mendesak agar ada regulasi nasional yang mengatur promosi produk makanan tinggi gula, khususnya yang menyasar anak. Di banyak negara, pembatasan iklan junk food telah diberlakukan sebagai bagian dari proteksi generasi muda.

“Jangan tunggu 10 tahun lagi ketika kondisi sudah tak terkendali. Bertindak sekarang atau bersiap menanggung krisis kesehatan anak yang lebih parah,” tegas Piprim.

Masyarakat pun diimbau untuk lebih kritis terhadap produk yang mereka konsumsi. Membaca label kandungan gizi, menghindari camilan manis berlebihan, dan memberikan edukasi pada anak sejak dini adalah langkah sederhana namun berdampak besar.

Sementara itu, tekanan terhadap Kementerian Kesehatan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika agar membuat kebijakan pembatasan iklan terus digaungkan oleh berbagai pihak, termasuk aktivis kesehatan anak dan komunitas orang tua.

Indonesia kini berada di persimpangan. Di satu sisi, industri makanan olahan kian menggeliat, tapi di sisi lain, anak-anak tumbuh dengan risiko penyakit kronis yang seharusnya bisa dicegah. Apakah pemerintah berani mengambil langkah besar demi masa depan yang lebih sehat? Waktu akan menjawabnya. (***)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.