Banjir memang belum bisa dipisahkan dari Jakarta. Kendati demikian setiap pemimpin dalam periodenya masing-masing, selalu memiliki cara untuk mengendalikan banjir itu lewat berbagai cara. Entah itu melanjutkan kebijakan lama yang sudah efektif maupun mencari cara baru.
Seperti halnya yang dilakukan pleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang melaksanakan kegiatan susur sungai, sebagai bentuk pemantauan langsung terhadap sistem pengendalian banjir dan rencana penataan ruang publik di Ibu Kota.
Titik-titik strategis seperti pintu air Manggarai dan Setiabudi menjadi fokus tinjauan karena berperan penting dalam pengendalian aliran air, terutama saat curah hujan tinggi atau banjir kiriman dari wilayah hulu.
Langkah monitoring ini bukan hanya simbolik, melainkan bagian dari strategi antisipatif yang konkret. Pramono menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur meskipun saat ini musim kemarau, sebab pengendalian banjir yang efektif memerlukan perencanaan jangka panjang dan pengawasan yang konsisten. Ini menunjukkan adanya pergeseran pendekatan dari reaktif menjadi preventif dalam tata kelola banjir Jakarta.
Selain fungsi teknis, Gubernur juga ingin menjadikan kawasan sungai sebagai ruang publik yang ramah masyarakat. Ia menugaskan jajaran pembangunan untuk mulai menata kawasan sepanjang sungai agar bisa difungsikan sebagai tempat rekreasi, seperti area nongkrong saat akhir pekan. Dengan melibatkan pengelola kawasan seperti JxB, penataan ini diharapkan berjalan terintegrasi antara fungsi ekologis dan sosial.
Inisiatif ini mencerminkan visi Gubernur Pramono untuk menjadikan Jakarta bukan hanya tahan banjir, tetapi juga lebih humanis dan layak huni. Sungai tidak lagi dilihat sekadar sebagai saluran teknis, tetapi sebagai ruang hidup kota yang bisa diakses, dinikmati, dan membangun kedekatan masyarakat dengan lingkungannya.
Dengan kombinasi antara pengendalian banjir yang kuat dan pengembangan ruang publik yang inklusif, Jakarta diarahkan menjadi kota modern yang berkelanjutan, tangguh, dan menarik bagi warga maupun pengunjung.