Kasus ribuan siswa di Jawa Tengah yang diduga keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu perhatian publik. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang menanggapi santai kasus tersebut justru menuai gelombang kritik dari warganet.
Dalam rapat koordinasi MBG di GOR Jatidiri, Semarang, Senin (6/10/2025), Luthfi menyebut bahwa insiden itu tidak perlu dibesar-besarkan. Ia beranggapan gejala yang dialami siswa umumnya ringan.
“Evaluasinya macam-macam. Kadang ada yang perutnya kaget, diare, itu hal biasa. Jadi jangan dibesar-besarkan, nanti malah bikin orang takut,” ujarnya.
Luthfi bahkan mencontohkan perbedaan jenis makanan sebagai penyebab perut anak-anak bereaksi. “Perutnya cuma kaget, jangan dibesar-besarkan. Sing biasane makan indomie dikasih spageti, ora cocok wetenge, jadi penyakit (keracunan),” katanya yang disambut tawa ringan sebagian peserta rapat.
Namun, pernyataan itu justru viral dan menuai kritik tajam di media sosial. Seorang warganet menuliskan, “Maaf pak gubernur, jangan bicara seperti itu. Kalau itu terjadi terhadap anak atau cucu bapak bagaimana? Prihatinlah atas kejadian itu, jangan dibuat bahan candaan. Itu nyawa dan aset masa depan anak bangsa, loh, Pak.” Komentar ini mendapat banyak dukungan dan ribuan tanda suka dari pengguna lainnya.
Meski dinilai kurang empatik, Luthfi tetap mengakui adanya kelemahan dalam pelaksanaan program MBG. Ia menyoroti aspek higienitas, sanitasi, serta kesiapan tenaga pelaksana di lapangan.
“Omprengnya tidak bersih jadi penyakit. Kemudian SDM yang menjamah makanan itu kurang profesional. Karena buru-buru, belum siap disimpan, lama kelamaan jadi penyakit,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memastikan seluruh proses produksi dan distribusi makanan memenuhi standar kebersihan, termasuk memiliki Sertifikat Laik Higienitas Sanitasi (SLHS).
“SPPG harus memastikan semua alat bersih dan tenaga pengolahnya profesional. Ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, tapi soal kesehatan generasi kita,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Jawa Tengah mencatat hampir 2.700 siswa di 15 kabupaten terdampak, dengan gejala ringan seperti mual, pusing, dan diare. Sebagian besar kasus dilaporkan berasal dari sekolah dasar di wilayah pedesaan.
Hingga kini, investigasi penyebab keracunan masih berlangsung. Meski mayoritas korban telah pulih, kasus ini menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah agar program nasional pemenuhan gizi pelajar tidak berubah menjadi bencana kesehatan massal.