Kasus penyiraman air keras kembali terjadi di Indonesia dan menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus. Peristiwa itu terjadi setelah Andrie melakukan perekaman siniar bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Jakarta pada Kamis (12/3/2026) malam.
Sosiolog politik dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, menilai teror tersebut menunjukkan ancaman terhadap demokrasi dan perlindungan warga negara.
“(Kejadian ini menandakan) ada pihak yang sangat tidak suka dengan kiprah Andrie Yunus yang sangat kritis terhadap segala upaya kembalinya militerisme di Indonesia,” kata Ubedilah, Minggu (15/3/2026).
“Kedua, tanda bahwa negara gagal melindungi warga negara dari segala bentuk kekerasan. Dan ketiga, tanda bahwa demokrasi dan hak-hak warga negara secara koersif sedang dibunuh.” imbuhnya.
Ia juga mendesak negara segera mengungkap pelaku dan aktor intelektual di balik serangan tersebut.
“Jika negara tidak mengungkap siapa pelaku dan aktor intelektual dibalik penyiraman air keras tersebut berarti negara dapat di duga kuat terlibat dalam aksi penyiraman air keras tersebut,” tegasnya.
Penyiraman itu sendiri terjadi pada Kamis (12/3/2026) pukul 23.37 WIB di Jalan Salemba I–Talang, Jakarta Pusat, saat Andrie mengendarai sepeda motor. Dua pelaku yang berboncengan mendekati korban dari arah berlawanan lalu menyiramkan air keras hingga korban terjatuh.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengatakan pelaku terekam CCTV di sekitar lokasi.
”Pelaku merupakan dua laki-laki yang melakukan operasinya dengan menggunakan satu motor, masing-masing berperan menjadi pengemudi dan penumpang,” kata dia.
Saat ini Andrie dirawat di rumah sakit di Jakarta. Perwakilan KontraS, Jane Rosalina, menyebut korban mengalami luka bakar sekitar 24 persen di wajah bagian kanan, mata kanan, kedua tangan, serta dada.
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, M Isnur, menyebut korban sempat dikuntit beberapa hari sebelum kejadian dan terekam CCTV.
”Kami punya bukti. Kami menelusuri Andrie diintai beberapa hari ini, dari rumah, tempat-tempat berkunjungnya.
Kemarin seharian dari Celios, kemudian dari YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) sudah diikuti. Orang-orangnya jelas semua terekam di CCTV.
Jadi, kami pun punya hak untuk mengungkapkan ini ke depan kalau kemudian kepolisian lambat,” kata Isnur.
Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, mengatakan para pelaku terlihat terorganisasi.
”Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan sehingga saat menyerang terorganisasi,” kata Novel.
Presiden Prabowo Subianto sendiri telah memerintahkan Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
“Saya telah mendapatkan perintah langsung dari Bapak Presiden untuk melaksanakan pengusutan tuntas, secara profesional, transparan, dan tentunya langkah-langkah yang kita lakukan tentunya tetap mengedepankan scientific crime investigation,” kata dia.
Polisi saat ini mengumpulkan informasi dan membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang mengetahui kejadian tersebut.
“Untuk tahapan-tahapan selanjutnya, saat ini anak buah saya sudah saya perintah untuk bekerja dan nanti secara rutin setelah ada perkembangan dari hasil pengumpulan informasi yang kita dapat, akan kita informasikan, baik dari posko pengaduan ataupun dari Humas Polri yang tentunya kita minta untuk memberikan informasi,” tandasnya.