Sabtu, Maret 28, 2026

Bahlil Beberkan Kendala, Kapal RI Masih Antre di Hormuz

Upaya pemerintah Indonesia untuk memulangkan dua kapal tanker milik Pertamina masih menghadapi hambatan. Hingga kini, akses melintasi Selat Hormuz belum dibuka oleh Iran, di tengah situasi geopolitik kawasan yang memanas.

Dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di Teluk Arab karena Iran belum membuka akses Selat Hormuz bagi Indonesia. Di saat yang sama, sejumlah negara seperti Malaysia justru sudah mendapat izin melintas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih terus berupaya mengeluarkan kapal tersebut melalui jalur komunikasi dan negosiasi intensif.

“Ya kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz,” kata Bahlil di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026)

Bahlil mengakui proses negosiasi tidak mudah dan membutuhkan waktu karena adanya antrean panjang kapal dari berbagai negara.

“Masih negosiasi sekarang. Kan ini kan antrean panjang. Lagi dalam negosiasi, ya. Kasih kami waktu ya. Masih negosiasi, masih negosiasi,” ungkapnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3).

Menurutnya, komunikasi terus dilakukan di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Alhamdulillah kita sekalipun dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai, tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz itu sudah mulai ada kebijakan tutup-buka,” kata Bahlil.

Di tengah situasi tersebut, Iran diketahui mulai membuka akses Selat Hormuz secara terbatas untuk negara-negara yang dianggap bersahabat.

Kebijakan ini disampaikan melalui akun media sosial X Konsulat Jenderal Iran di Mumbai yang mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

“Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi: Kami mengizinkan pelayaran melalui Selat Hormuz bagi negara-negara sahabat termasuk China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan,” tulis unggahan tersebut, dikutip dari The Economic Times, Kamis (26/3/2026).

Sementara itu, Malaysia memastikan kapal tankernya telah diizinkan melintas. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut izin tersebut diperoleh setelah komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara di kawasan.

Dalam pidato yang disiarkan di televisi, Anwar juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas kebijakan tersebut.

“Kami sekarang sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” ujar Anwar dikutip dari Reuters, Kamis (26/3/2026).

Situasi ini menegaskan bahwa jalur diplomasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk segera membuka akses pelayaran, di tengah ketatnya kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.