Selasa, Juni 2, 2026

Bukan Sekadar Anyaman, Kampung Bojong Hidup dari Ketupat

MELIHAT INDONESIA, BOGOR – Riuh aktivitas tampak di gang-gang sempit Kampung Bojong, Kelurahan Cimahpar, Bogor Utara, Jawa Barat. Bukan lalu lintas kendaraan atau pernak-pernik lampu hias yang menjadi pusat perhatian, melainkan suara janur yang saling bersentuhan, di tangan-tangan terampil para warga. Di kampung ini, ketupat bukan hanya menu Lebaran, tapi sumber kehidupan.

Sudah puluhan tahun, warga Kampung Bojong menggantungkan hidup pada anyaman ketupat. Tak heran jika kampung ini lebih akrab disebut sebagai Kampung Ketupat oleh masyarakat sekitar. Menjelang hari raya, denyut nadi kampung kecil ini seolah berdetak lebih cepat.

“Kami bukan cuma buat ketupat, kami hidup dari ketupat,” ujar Endang Suhendar (50), tokoh masyarakat yang juga ketua RW setempat, saat ditemui di tengah kesibukan warga, Kamis (27/3/2025).

Sejak anak-anak hingga orang dewasa, semua tahu cara merangkai janur menjadi ketupat. Di usia belasan, anak-anak di Kampung Bojong sudah cekatan melipat daun kelapa muda, membentuk anyaman yang rapi. “Kalau sudah di sini, belajar bikin ketupat itu kaya belajar jalan,” Endang terkekeh.

Setidaknya ada lebih dari 100 perajin aktif yang tersebar di dua RT, yakni RT 02 dan RT 03. Mereka tak sekadar memproduksi untuk keperluan sendiri, melainkan memenuhi pesanan dari berbagai penjuru Bogor dan sekitarnya.

Permintaan ketupat melonjak tajam setiap menjelang Lebaran. Jika pada hari biasa warga hanya merangkai sekitar 1.000 ketupat, saat Ramadhan menuju Idul Fitri jumlahnya bisa melonjak lima kali lipat. “Paling ramai ya dua minggu terakhir Ramadhan, bisa sampai 5.000 ketupat keluar dari sini,” jelas Endang.

Di balik keindahan anyaman ketupat, tersimpan kerja keras yang tidak sebentar. Membentuk satu ketupat memerlukan keterampilan khusus yang dikuasai lewat latihan sejak kecil. Proses menganyam saja bisa memakan waktu hingga dua jam, sementara merebusnya dalam dandang raksasa membutuhkan waktu delapan jam non-stop.

Di rumah-rumah warga, tampak dandang berukuran jumbo yang sanggup merebus hingga 1.000 ketupat sekaligus. Asap mengepul dari tungku-tungku sederhana yang sudah jarang terlihat di perkampungan kota. “Biasanya kami begadang, karena rebusan harus dijaga sampai matang betul,” ujar Endang.

Menariknya, ketupat buatan Kampung Bojong dijual dalam dua versi: mentah dan matang. Ketupat mentah dibanderol Rp10.000 per 10 buah, sedangkan ketupat matang mencapai Rp25.000 per 10 buah. Pesanan datang dari berbagai pasar tradisional di Kota dan Kabupaten Bogor, bahkan sebagian pedagang besar sudah rutin menjadi pelanggan tetap.

Kampung ini pun seolah tak pernah tidur selama masa-masa menjelang Lebaran. Setiap gang dipenuhi anak-anak yang menganyam sambil bercanda, para ibu yang mengikat janur, hingga kaum bapak yang sibuk menjaga rebusan ketupat. “Ini bukan sekadar tradisi, tapi mata pencaharian kami sejak dulu,” tutur Endang.

Yang menarik, Kampung Bojong tidak hanya mempertahankan tradisi, tapi juga menghidupi ratusan warga lewat ketupat. Masyarakat di sini seperti menemukan keberkahan di setiap lilitan janur yang mereka buat.

“Kalau bukan dari ketupat, kami mungkin sudah merantau ke kota. Tapi karena ketupat, kampung ini tetap hidup,” kata Endang sambil tersenyum.

Dan ketika Lebaran tiba, ketupat dari Kampung Bojong menghiasi meja-meja makan di Bogor dan sekitarnya. Siapa sangka, di balik hidangan sederhana itu tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kebersamaan, dan kearifan lokal. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.