Kamis, Maret 12, 2026

Duka Berlapis Pilu, Ayah Korban Pemerkosaan Dokter Priguna Meninggal

MELIHAT INDONESIA, BANDUNG – Tragedi memilukan menimpa seorang gadis berusia 21 tahun saat tengah menemani sang ayah yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Bukan hanya harus kehilangan ayah tercinta yang wafat usai menjalani operasi, gadis ini juga mengalami peristiwa keji: ia menjadi korban pemerkosaan oleh dokter yang semestinya merawat ayahnya.

Kejadian ini terungkap Jumat, 11 April 2025. Sosok pelaku tak lain adalah Priguna Anugerah, seorang dokter residen anestesi Universitas Padjadjaran yang bertugas di RSHS. Aksi bejatnya menodai kepercayaan masyarakat pada tenaga medis.

Menurut pengakuan keluarga korban, pemerkosaan terjadi saat korban menemani ayahnya yang masuk rumah sakit pada 16 Maret 2025. Dua hari setelahnya, tepat pada 18 Maret, tindakan keji itu dilakukan. Satu hari berselang, sang ayah menjalani operasi. Namun bukan pemulihan yang terjadi, melainkan kondisi yang kian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

“Masuk tanggal 16 ke rumah sakit, terus ada perawatan beberapa hari. Dokter bilang harus operasi. Tapi pada tanggal 18 malam, kejadian itu terjadi,” ungkap Agus, kakak ipar korban, dengan suara bergetar menahan emosi.

Tragedi ini menjadi luka ganda bagi keluarga. Di tengah duka mendalam karena kehilangan kepala keluarga, mereka juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anak perempuan mereka menjadi korban pelecehan seksual di tempat yang seharusnya aman.

“Paginya, tanggal 19, ayahnya korban operasi. Tapi setelah itu kondisi terus drop. Beberapa hari kemudian, meninggal dunia,” lanjut Agus.

Ironisnya, kasus ini bukanlah satu-satunya. Berdasarkan laporan yang telah dikonfirmasi, Priguna Anugerah diduga memperkosa tiga wanita dalam kurun waktu sepekan. Korbannya bukan hanya pasien, tetapi juga pendamping pasien seperti gadis malang ini.

Tindakan biadab Priguna terjadi di lingkungan rumah sakit yang seharusnya steril dari kejahatan. Ia memanfaatkan posisi dan aksesnya sebagai dokter residen untuk melancarkan aksi kriminal.

Kini, keluarga korban menuntut keadilan. Mereka berharap proses hukum berjalan tegas dan transparan. Tidak hanya untuk menghukum pelaku, tapi juga untuk memulihkan martabat korban yang telah dihancurkan.

“Dia (korban) masih trauma berat. Kami belum tahu bagaimana nanti bisa melanjutkan hidupnya setelah kejadian ini,” ujar Agus.

Masyarakat pun mulai mempertanyakan sistem pengawasan di rumah sakit pendidikan seperti RSHS. Bagaimana mungkin pelaku bisa berkeliaran dan melakukan kejahatan berulang dalam kurun waktu seminggu tanpa terdeteksi?

Kasus ini telah mencoreng nama baik institusi pendidikan dan layanan kesehatan. Tindakan cepat dan akuntabel dari pihak berwenang sangat dinanti, termasuk dari RSHS dan Universitas Padjadjaran.

Priguna saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh aparat kepolisian. Pasal berat tentang kekerasan seksual dan pelanggaran etik profesi menanti pria yang seharusnya menyelamatkan nyawa, bukan merusaknya.

Keluarga korban mengaku tak akan diam. Mereka akan membawa kasus ini sampai ke meja hijau dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan setegak-tegaknya.

Sementara itu, kondisi psikologis korban masih sangat rapuh. Trauma mendalam yang dialaminya membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Tak hanya pemulihan medis, tapi juga pendampingan hukum dan psikologis secara menyeluruh.

Kasus ini menyadarkan banyak pihak: bahwa ruang publik seperti rumah sakit masih rentan terhadap pelecehan jika pengawasan longgar. Ada lubang besar dalam sistem pengamanan yang harus segera ditambal.

Di tengah rasa kehilangan karena kematian ayahnya, korban harus menghadapi luka lain yang tak kasat mata. Trauma itu kini membekas dalam dan bisa menghancurkan masa depannya bila tak segera ditangani dengan tepat.

Peristiwa memilukan ini adalah tamparan keras bagi dunia medis dan pendidikan tinggi. Seorang dokter, apalagi yang tengah menjalani pendidikan spesialis, seharusnya memegang nilai-nilai moral tertinggi, bukan malah menjadi predator dalam jas putih.

Kini mata publik tertuju pada kasus ini. Semua menantikan bagaimana negara akan melindungi warganya dari kejahatan yang bahkan bisa terjadi di balik pintu rumah sakit. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.