Jumat, April 17, 2026

Ganjar Digambarkan Tidak Pernah Bersyukur, Saat Idul Adha Tidak Pernah Berkurban dan Tidak Pernah Salat Di Sebuah Buku Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti

Akhir tahun 2020 pendidikan di Jakarta digegerkan dengan sebuah soal ujian SMP yang menyebutkan nama Anies dan Mega. Anies diceritakan baik hati, sedangkan Mega diceritakan negatif.

Saat ini ada lagi nama Ganjar dalam soal di buku pelajaran pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti terbitan PT Tiga Serangkai tahun 2020. Di sebuah buku ini Ganjar digambarkan tidak pernah bersyukur, setiap Idul Adha tidak pernah berkurban dan tidak pernah salat.

Memang hanya menyebut Ganjar saja, tidak Ganjar Pranowo. Tapi selama ini nama Ganjar tidak lazim ada dalam soal pelajaran. Jika Mega hanya digambarkan suka mengejek, Ganjar lebih parah. Dengan gambaran tidak pernah bersyukur, tidak pernah berkurban, dan tidak pernah salat sama saja menganggap Ganjar tidak agamis. Dan ini buku tentang pendidikan agama Islam.

Bahkan, tidak hanya sekali. Nama Ganjar ditemukan pada dua buku. Yakni buku untuk kelas 3 dan satu lagi di buku kelas 4. Bukunya sama, Pendidikan Agama Islam dan Budipekerti.

Kedua buku itu diterbitkan tahun 2020 oleh PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri yang beralamat di Kota Surakarta. Buku ditemukan beredar di salah satu Sekolah Dasar Islam Terpadu di Bekasi.

Mengapa hanya diedarkan di Jawa Barat, tapi tidak di Jawa Tengah? Apakah ada yang sengaja ingin menjatuhkan nama Ganjar Pranowo? Jahat sekali orang-orang yang mencoba menstimulus otak anak-anak agar menganggap nama Ganjar itu jahat dan tidak beragama.

Jika kasus Anies dan Mega dulu masih bisa bilang kebetulan, kali ini tidak. Patut diduga ada kelompok terorganisir, sistematis dan massif yang mencoba memasukkan ideologi intoleransi dan radikalisme ke dalam dunia pendidikan. Mereka mengajari anak-anak pikiran-pikiran agar membenci tokoh tertentu, bahkan membenci Negara.

Ini sebuah hal yang serius serta berbahaya.

Mengapa PT Tiga Serangkai sebagai penerbit besar dan terkenal di Solo menerbitkan buku itu? Apakah mereka mendukung kelompok pembenci Negara, intoleran dan radikalis? Ini jelas harus diusut tuntas.

Bisa saja PT Tiga Serangkai berkilah tidak tahu. Atau mengaku kecolongan. Apapun itu, indikasinya jelas, bahwa perusahaan itu dimungkinkan telah disusupi orang-orang yang pro intoleransi dan pro radikalisme. Jika itu benar terjadi, PT Tiga Serangkai harus bisa menyisir siapa saja karyawan atau pimpinannya yang terindikasi penganut faham pembenci Negara.

Dimasyarakat juga sudah mulai ada isu untuk boikut PT Tiga Serangkai.

Jika tidak, maka kita boikot saja buku-buku terbitan PT Tiga Serangkai. Daripada anak-anak kita terus dicekoki faham radikalisme dan intoleransi.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.