SEMARANG – Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah, menilai Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka untuk kepemimpinan saat ini bisa menjadi contoh role model implementasi nalai-nilai luhur Pancasila.
Ganjar mengatakan saat ini dibutuhkan agen-agen untuk membumikan Pancasila. Sehingga nilai-nilai luhur Pancasila bisa terimplementasikan dalam tindakan atau perilaku nyata sehari-hari.
Salah satu sosok yang menurut Ganjar bisa menjadi role model implementasi nilai-nilai Pancasila yaitu Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Pernyataan itu ia sampaikan saat wawancara dengan wartawan seusai menjadi salah satu pembicara Talkshow Memperingati Hari Lahir Pancasila; Pancasila dalam Tindakan, Selasa (1/6).
“Ada yang muda banget, Mas Gibran, Wali Kota Solo, bisa dijadikan role model kan, dalam kepemimpinan, bagaimana dalam aksi nyata. Terus kemudian mengajak anak muda seperti apa,” ujarnya.
Menurut Ganjar, zaman sudah berubah, sehingga dibutuhkan gerakan atau kampanye contoh nyata tentang nilai-nilai Pancasila. Politikus PDIP itu menyebut Pancasila sebagai live star dinamis atau bintang bercahaya yang dinamis.
Salah satu bentuk implementasi nilai luhur Pancasila di Jateng menurut Ganjar yaitu keberadaan Satgas Jaga Tangga dalam penanganan Covid-19. Satgas ini tak melihat latar belakang agama, suku, atau parpol, dalam menolong orang lain.
Penggunaan Media Sosial
“Menolong orang tidak perlu ditanya agamanya apa, parpolnya apa, atau sukunya apa. Tolong ya tolong saja. Praktik-praktik itu mesti disampaikan. Teknologi sudah digital. Kalau ada konten-konten yang baik upload dong dengan narasi-narasi positif, prestasi-prestasi. Sehingga Pancasila sebagai live star dinamis bisa dimunculkan,” tuturnya.
Penuturan senada disampaikan Gibran Rakabuming Raka dalam paparannya. Menurut Wali Kota Solo Gibran, anak muda bisa mengambil peran dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti dengan membanjiri media sosial dengan konten-konten positif atau prestasi membanggakan bangsa dan negara. Namun ia mengakui penggunaan media sosial sering kali masih mengedepankan aspek kontroversial dan bombastis.
Sebab konten-konten kontroversial dan bombastis selalu mendapat banyak respons, ketimbang konten-konten yang bersifat edukatif atau prestasi. Kondisi tersebut menurut Gibran menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Masalahnya ya itu, kalau beritanya tidak bombastis, tidak kontroversial, tidak menjual. Kadang-kadang itu yang kita kesusahan. Kita banjiri konten positif responsnya kurang. Tapi ketika ada yang kontroversial, yang lihat banyak banget. Ini jadi PR kita ke depan. Misalnya kemarin Solo dapat WTP ke-11 kali kan tidak ada yang gagas,” urainya.