Nasib sial dialami Agus Zamroni, Direktur PT Mitra Maharta, produsen alat dan mesin pertanian (alsintan) di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sejumlah alsintan miliknya disita petugas pajak karena tak mampu melunasi kekurangan pembayaran pajak senilai Rp490 juta.
Agus mengaku, kesulitan keuangan perusahaan yang dipimpinnya bermula dari pesanan 1.000 unit combine harvester atau mesin panen padi dari mantan Presiden Jokowi pada 2015. Kala itu, Jokowi memesan langsung saat berkunjung ke pabrik PT Mitra Maharta. Namun, hingga produksi selesai, pemerintah justru tidak menyerap seluruh pesanan tersebut.
“Pesan 1.000 unit, tapi yang diambil hanya 81 unit saja. Saat ini, masih ratusan unit masih tersimpan di gudang,” jelas Agus, Kamis (18/9/2025).
Modal produksi alsintan tersebut sebagian besar berasal dari kredit bank. Tak terserapnya pesanan membuat keuangan perusahaan kolaps. Kondisi semakin memburuk ketika muncul tagihan pajak senilai Rp1,4 miliar. Agus mencoba mengangsur sedikit demi sedikit, namun lambat laun tak sanggup lagi melunasi tunggakan dan dendanya.
“Saya punya kekurangan angsuran pajak sebesar Rp490 juta. Kalau bayar tunai, saya belum punya uang. Harus cari utangan dulu. Makanya saya bayar dengan empat combine harvester. Per unitnya Rp122 juta,” ujar Agus.
Petugas pajak dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Ponorogo pun melakukan penyitaan empat unit alsintan di pabrik PT Mitra Maharta yang berlokasi di Kelurahan Mlilir, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Selasa siang (16/9/2025). “Petugas langsung menempel stiker penyitaan di empat unit alsintan itu,” tambahnya.
Kepala Seksi Penagihan KPP Pratama Ponorogo, Hasan Wahyudi, membenarkan penyitaan tersebut.
“Kami di sini hanya menjalankan tugas terkait ketetapan yang belum terselesaikan. Dari wajib pajak ada inisiatif untuk membayar pakai combine ini,” jelas Hasan.
Hasan mengatakan, empat unit alat tersebut akan melalui proses penilaian harga dan dilelang. “Selanjutnya hasil lelang akan disampaikan apakah cukup untuk menutup tanggungan pajak dan dendanya atau masih kurang. Ini bukan untuk pengganti pembayaran, tapi nanti akan ada proses lelang,” ungkapnya.
Agus berharap, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat memberikan perhatian kepada industri alsintan lokal. Menurutnya, alsintan merek Zagaa yang diproduksinya merupakan hasil riset sendiri dan sudah memiliki hak paten.
“Alat pemanen padi ini hasil riset saya sendiri. Biaya riset pun kami tanggung sendiri, tidak dibiayai oleh negara,” tegas Agus.