Jumlah korban tewas akibat ambruknya gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kembali bertambah. Hingga Minggu (5/10/2025) siang, total korban meninggal dunia mencapai 39 orang, termasuk dua yang hanya berupa potongan tubuh, sementara lebih dari 20 orang masih diduga tertimbun reruntuhan.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menyampaikan penemuan terbaru terjadi pada Minggu siang. “Ditemukan dua korban ya. Memang kondisi satu body part, satu kami anggap jenazah. Tapi dari kemarin satu, jadi totalnya kan 143. Meninggal dunia 39, di antaranya dua dalam kondisi body part,” ujar Nanang.
Menurutnya, potongan tubuh berupa kaki diekstrikasi pukul 10.52 WIB dari sektor A1 atau dekat pintu masuk musala, sementara satu korban lainnya dievakuasi pukul 11.45 WIB di sektor A2 atau area wudu. Keduanya langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk proses identifikasi.
Sebelumnya, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, mengatakan jenazah paling banyak ditemukan di lantai satu sisi utara. “Yang paling banyak ditemukan ada di lantai satu,” ungkapnya. Ia menambahkan lebih dari 60 persen puing telah berhasil diangkat, sementara proses pembersihan terus dilakukan.
Progres evakuasi kini mencapai 75%. Petugas menggunakan ekskavator untuk membersihkan puing, dan jika ditemukan tanda-tanda adanya korban, dilakukan ekstrikasi material. “Proses ekstrikasi material ini untuk memisahkan ataupun melepaskan anggota tubuh ataupun jenazah tersebut dari material-material bangunan,” jelas Nanang.
Tim Basarnas menduga masih ada beberapa korban berada di lantai dasar, khususnya di area tengah bangunan. “Praduga perkiraan di sisi tengah itu memang sudah kita laksanakan kita prediksi ada di sana masih ada korban-korban yang memang masih terpisah,” pungkas Nanang.
Sementara itu, Kasubdit RPDO Basarnas, Emi Freezer, menegaskan pencarian masih difokuskan di sektor A3 dan A4. “Laporan terakhir, total terdapat 11 korban berhasil di-ekstrikasi pada hari ketujuh pencarian [secara beruntun] di sektor A3 (sisi belakang reruntuhan),” ujarnya.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama Bramantyo, sebelumnya menyebut adanya perbedaan data korban antara Basarnas dan BNPB.
“Kegiatan sampai dengan tadi terakhir, kami temukan pada pukul 03.24 WIB dini hari. Jadi total ada 36 menurut BNPB, sementara versi kami 37 karena ada satu body part yang kami masukkan dalam hitungan,” ucap Bramantyo.
Untuk mendukung proses pencarian, BNPB melibatkan tim ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) guna melakukan investigasi forensik struktur bangunan agar evakuasi tidak merusak gedung lain.
“Beton ada yang menempel di sebelah kiri dan terhubung dengan gedung atau bangunan lain di sebelahnya. Tim dari ITS akan melakukan investigasi dan memberikan petunjuk kepada tim agar proses pembersihan ini tidak mengganggu atau merusak bangunan lain,” kata Budi.
Di sisi lain, kondisi kesehatan petugas mulai terdampak. Beberapa anggota tim mengalami gatal-gatal akibat kondisi lapangan. BNPB pun menyiapkan tambahan Alat Pelindung Diri (APD), kacamata google, sarung tangan, masker, sepatu boots, hingga perlengkapan sekali pakai lainnya.
“Nanti semua keperluan, APD, kacamata google dan apapun BNPB akan dukung. BNPB punya banyak APD dan semua peralatan lain yang dibutuhkan,” ujar Budi.
Seperti diketahui, gedung tiga lantai termasuk musala di asrama putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin (29/9) sore. Saat kejadian, ratusan santri dan jemaah tengah melaksanakan salat ashar berjemaah di bangunan yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.