Jumat, April 17, 2026

Zulhas Akui Program MBG Penyebab Harga Pangan Meroket

Harga pangan di sejumlah daerah mengalami kenaikan pada September 2025.

Inflasi harga pangan bergejolak atau volatile foods mencapai 6,44 persen secara tahunan, jauh di atas target inflasi umum yang hanya 2,5 plus minus 1 persen.

Salah satu penyebab utama kenaikan ini adalah percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan seperti ayam, telur, dan ikan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menjelaskan bahwa lonjakan kebutuhan akibat program MBG berdampak langsung pada kenaikan harga di beberapa wilayah.

Ia mencontohkan Papua sebagai salah satu daerah dengan peningkatan harga yang signifikan.

“Memang ada daerah tertentu di mana harga komoditas seperti telur dan ayam naik sekitar 6–7 persen. Itu karena percepatan pelaksanaan makanan bergizi yang luar biasa,” ujar Zulhas dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Zulhas menegaskan, percepatan MBG akan terus berlanjut hingga tahun depan sebagai bagian dari program besar menuju swasembada pangan nasional.

Namun ia juga mengakui bahwa percepatan ini perlu diimbangi dengan kesiapan ekosistem pangan, terutama pasokan bahan baku.

Menurutnya, waktu penyesuaian masih dibutuhkan agar keseimbangan antara permintaan dan pasokan bisa tercapai.

“Tahun depan kita percepat lagi swasembada pangan, termasuk untuk ayam, telur, dan ikan. Tapi memang butuh waktu membangun kapasitas itu,” kata Zulhas.

Deputi I Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menambahkan bahwa inflasi umum sebenarnya masih terkendali di angka 2,65 persen secara tahunan.

Namun komponen volatile foods masih menjadi perhatian serius pemerintah.

Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah akan memperkuat koordinasi untuk menekan inflasi pangan agar kembali di bawah 5 persen.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebut permintaan ayam dan telur melonjak tajam sejak program MBG dijalankan.

Ia memperkirakan satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan sekitar 350 kilogram ayam dan 3.000 butir telur per hari untuk melayani 3.000 penerima manfaat.

Karena itu, Dadan menilai perlu ada penambahan peternak ayam petelur agar pasokan tetap stabil dan harga bisa kembali terkendali.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.