Sabtu, April 18, 2026

Harga Jagung dan Telur Ikut Naik, Dampak Melambungnya Harga Beras

MELIHAT INDONESIA – SLEMAN – Kenaikan harga beras berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas lain di Kabupaten Sleman. Misalnya harga jagung dan telur yang ikut terkerek naik.

Kepala Bidang Usaha Perdagangan Disperindag Sleman, Kurnia Astuti, mengatakan ada lingkaran kenaikan harga pada beberapa komoditas yang menjadi buntut dari kenaikan harga beras.

Jagung dan telur, menjadi dua komoditas paling dekat terkena dampak kenaikan harga beras.

Nia menerangkan kenaikan harga beras membuat sebagian masyarakat beralih untuk mengonsumsi jagung.

Hal ini membuat permintaan jagung meningkat, sehingga mengerek harga komoditas tersebut.

“Karena volume produksi turun, maka harga jagung jadi ikutan mahal,” ujarnya pada Rabu (28/2/2024).

Harga telur pekan ini telah menembus angka Rp30.000 hingga Rp32.000 per kilogram.

Padahal normalnya, harga satu kilogram dibanderol di kisaran Rp26.000. Berarti saat ini harga telur rata-rata naik Rp4.000-Rp6.000 per kilogramnya.

“Jadi kaya lingkaran setan. Harga beras naik banyak orang mencari substitusi ke jagung.”

” Jagung akhirnya ikut naik harganya. Jagung yang biasa dikonsumsi untuk ternak, sekarang manusia pun mengonsumsi jagung untuk substitusi. Dampaknya telurnya juga baik harganya,” jelasnya.

Sementara itu, harga beras sendiri mengalami kenaikan seusai gempuran El Nino pada tahun lalu.

Terjadinya El Nino membuat musim tanam mundur. Akibatnya, waktu panen pun ikut mundur hingga ketersediaan beras minim.

“Sehingga untuk saat ini yang diprediksi panen raya, ini mundur untuk musim panennya. Akhirnya volume [beras] menurun,” ungkapnya.

“Faktor bencana juga sedikit mempengaruhi. Tapi sebenarnya kemarin itu justru karena volume produksi, karena kan panen ini mundur.”

“Dampak dari el nino beberapa waktu lalu, musim tanam mundur akhirnya musim panen pun juga mundur,” tambah Nia.

Nia sendiri tak menampik potensi harga pada sejumlah komoditas tadi akan mengalami kenaikan di awal Ramadan.

Namun, Nia berharap musim panen raya yang jatuh pada Maret dan April bisa menekan harga beras di pasaran.

“Ya kemungkinan masih tinggi [awal Ramadan]. Makanya kemarin kami menggelar pasar murah di empat lokasi dalam rangka untuk sedikit mengintervensi harga,” tegasnya.

Sebelumnya, TPID Kabupaten Sleman telah menggelar pasar murah untuk stabilitas harga.

Program ini bekerja sama dengan gabungan kelompok tani, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Perum Bulog, pelaku usaha beras dan pelaku usaha minyak goreng.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, menjelaskan di tahap pertama ini SEMAR MESEM akan dilaksanakan di empat kapanewon.

Ada delapan komoditas yang nantinya dijual, meliputi beras premium, beras medium, beras SPHP, telur ayam, gula pasir, tepung terigu, tepung beras dan minyak goreng.

Pasar murah ini terbuka untuk masyarakat umum dengan ketentuan pembeli harus ber-KTP Sleman. Satu orang pembeli hanya dapat menunjukkan satu KTP.

Pembelian beras SPHP dibatasi maksimal lima kilogram per orang, pembelian beras non SPHP maksimal 10 kilogram per orang, pembelian gula maksimal dua kilogram per orang dan pembelian telur maksimal dua kilogram per orang. (*)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.