MELIHAT INDONESIA – Sering kita mendengar ‘micin’ atau nama lainnya vetsin, atau Monosodium Glutamat (MSG) menjadi bahan caci maki atau subjek kontroversial di dunia kuiner dan kesehatan.
Perasa gurih nan instan ini pernah dianggap sebagai perusak organ tubuh, salah satunya menghambat tumbuh kembang anak.
MSG sendiri merupakan bahan tambahan makanan yang digunakan untuk meningkatkan rasa gurih atau umami pada makanan. Meskipun banyak makanan mengandung MSG secara alami, bagi pecintanya micin ini tetp menjadi pilihan untuk meningkatkan rasa makanan, agar lebih menggugah selera.
Banyak orang mengklaim bahwa MSG dapat menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kemerahan, atau gangguan pencernaan pada sebagian orang yang sensitif terhadapnya. Namun, penelitian ilmiah belum sepenuhnya mendukung klaim-klaim ini, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa reaksi negatif terhadap MSG mungkin lebih disebabkan oleh efek placebo daripada efek langsung dari MSG itu sendiri.
Dalam sebuah wawancara di kanal Youtube Kemal Pahlevi, Renatta Moeloek menyatakan dirinya secara pribadi tidak anti pada pengguanaan Monosodium Glutamat (MSG) dalam masakan.
Renatta Moeleoek ini dikenal dengan mana chef Renata, ia naik daun setelah menjadi juri dalam ajang lomba masak salah satu progam TV nasional.
“Gua nggak anti micin (MSG). Buat personal oke. Kalau misalnya gua cuma sekedar masak di rumah, gua don’t mind sama sekali sama adanya micin,” kata Chef Renatta.
Berbeda halnya ketika bekerja, wanita berparas manis ini langsung mengharamkan penggunaan perisa gurih instan tersebut.
“Ini bukan soal ego, tapi harga diri (profesional). Micin itu gurih. Kalau gurih itu kita bisa produce sendiri tanpa pakai yang instan. Banyak bahan (makanan) yang naturally mengandung glutamat,” imbuhnya.
Penggalan wawancara komedian Kemal Pahlevi dengan koki-pesohor Renatta Moeloek itu menjadi gambaran, betapa perisa instan bernama MSG atau micin menjadi bumbu dapur paling kontroversial di Indonesia.
Sebagian masyarakat percaya, MSG adalah komponen bumbu masak yang berbahaya bagi kesehatan.
Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa bumbu pelengkap masakan ini berdampak merusak organ tubuh, salah satunya menghambat tumbuh kembang anak.
Bahkan, pernah muncul olok-olok “generasi micin” di media sosial, yang artinya kurang lebih generasi yang tidak mampu berfikir.
Lain halnya dengan pecintanya. Keberadaan MSG tidak bisa dilepaskan sehari-hari, Mulai dari hidangan rumahan, street food populer seperti bakso, mie ayam, nasi goreng hingga gorengan terasa kurang mantap tanpa kehadiran micin.
Sejarah MSG
MSG ini pertama kali ditemukan oleh Dr Kikunae Ikeda, ahli kimia dari Tokyo Imperial University. Ikeda merupakan penemu rasa gurih atau dalam bahasa Jepang disebut “umami”.
Sebutan umami, Ikeda dapatkan dari nama sebuah bumbu masak yang telah digunakan sejak seratus tahun lalu. Namun, tidak langsung sukses begitu saja, temuan tersebut masih membutuhkan puluhan tahun untuk bisa diterima masyarakat.
Pada 1908, Ikeda berhasil mengisolasi kristal yang terbuat dari glutamat, salah satu asam amino paling umum yang ditemukan dalam makanan dan juga tubuh manusia.
Setahun kemudian, ia berhasil menemukan cara untuk memproduksi zat ini dengan menggabungkan glutamat dan natrium, yang merupakan penyedap yang lezat dan mudah dicerna.
Ia berhasil menemukan monosodium glutamat, atau dikenal dengan MSG. Sayangnya, rasa umami pada MSG sulit dipahami oleh masyarakat. Baru pada tahun 2000, peneliti berhasil menemukan reseptor rasa umami, atau gurih di lidah, sehingga menjadikannya rasa dasar kelima.
Ketika meracik MSG, profesor Ikeda mengacu pada sebuah bumbu masak bernama umami. Sejarah rasa umami sebenarnya sudah muncul sejak awal peradaban.
Umami merupakan rasa yang penting dalam Dunia Kuno. Umami adalah salah satu kota terpenting di Semenanjung Italia. Kota ini dihiasi banyak vila yang elegan dan rumah untuk berlibur. Namun, kota ini tidak hanya menyajikan sarana pariwisata semata, melainkan juga produksi garum, yang kaya akan kandungan rasa umami, atau gurih.
Garum sendiri adalah bumbu utama dalam dunia Kuno, mulai Yunani sampai Byzantium, hingga ke Arab. Bumbu ini dibuat dengan memfermentasikan isi perut ikan dalam air garam di dalam bejana tanah liat yang disebut urcei.
Hampir dua ribu tahun kemudian, kemungkinan tidak menyadari keberadaan garum, Ikeda mulai merintis analisis ilmiah terhadap rasa umami. Diperlukan waktu hampir seratus tahun hingga sains Barat memberikan perhatian pada hal ini.
Manuskrip yang menjelaskan riset Ikeda ditulis dalam bahasa Jepang, yang sayangnya belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris hingga puluhan tahun.
Rasa umami atau gurih dideteksi langsung melalui reseptor rasa, tetapi kebanyakan orang akan lebih sulit mengidentifikasi atau menjelaskan rasa ini dibandingkan empat rasa dasar lainnya, yaitu asin, manis, pedas, dan pahit.
Namun, dengan penjelasan dari penemuan Ikeda, rasa umami atau gurih dari MSG dapat dipahami secara perlahan. Kehadiran MSG mulai eksis kalangan juru masak. Seiring dengan hadirnya MSG, rasa umami semakin melejit bagai primadona di dunia kuliner.