MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Gen Z kini sedang heboh dengan istilah-istilah baru yang muncul di media sosial, dan salah satu yang tengah viral adalah “Aura Maghrib” dan “Aura Subuh.”
Istilah-istilah ini tiba-tiba populer setelah beberapa artis disematkan julukan tersebut. Sebagai contoh, Alam Ganjar, Arya Saloka, dan Fuji adalah beberapa nama yang sering disebut-sebut memiliki “Aura Maghrib”. Namun, meski istilah ini sering dipakai, ternyata maknanya tidak selalu positif.
“Aura Maghrib” merujuk pada orang-orang yang memiliki kulit lebih gelap. Istilah ini menjadi sorotan setelah Marion Jola membahasnya dalam sebuah episode YouTube Azka Corbuzier.
Marion, yang dikenal sebagai penyanyi jebolan Indonesian Idol, mengungkapkan bahwa penggunaan istilah ini cenderung negatif dan merendahkan. Menurut Marion, istilah ini digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap tidak enak dipandang, dan ia merasa penggunaan istilah ini sangat menjijikkan.
Marion Jola juga menambahkan bahwa istilah ini tidak hanya menyinggung secara estetika, tetapi juga mengabaikan makna spiritual dari waktu Maghrib dalam Islam.
Bagi umat Muslim, waktu Maghrib adalah waktu yang penting karena merupakan waktu ibadah. Marion merasa bahwa “Aura Maghrib” seharusnya tidak dijadikan ejekan, karena Maghrib itu sendiri adalah waktu yang indah dan penuh makna.
Di sisi lain, ada istilah “Aura Subuh” yang justru memiliki konotasi positif. Berbeda dengan “Aura Maghrib”, “Aura Subuh” digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki penampilan menarik dan menawan.
Istilah ini sering dipakai untuk memuji seseorang yang dianggap sangat cantik atau ganteng, memberikan kesan yang jauh lebih positif dibandingkan dengan “Aura Maghrib”.
“Aura Subuh” menggambarkan seseorang yang memancarkan pesona dan keindahan, mirip dengan keindahan pagi hari yang cerah dan segar. Ini adalah cara untuk mengapresiasi seseorang secara positif, dengan menekankan kualitas penampilan yang mengesankan dan memikat hati. Banyak netizen yang merasa bahwa istilah ini lebih adil dan menyenangkan dibandingkan dengan julukan negatif seperti “Aura Maghrib”.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana istilah-istilah baru bisa mencerminkan pandangan sosial kita. Sementara “Aura Maghrib” membawa konotasi yang kurang menyenangkan, “Aura Subuh” justru merayakan keindahan dan pesona seseorang. Perbedaan makna ini juga mencerminkan perubahan dalam cara kita menghargai dan mengapresiasi penampilan orang lain di era digital ini.
Akhirnya, penting bagi kita untuk selalu berpikir kritis dan sensitif terhadap istilah yang kita gunakan. Sebagai generasi yang aktif di media sosial, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa bahasa kita tidak hanya mencerminkan pikiran kita tetapi juga tidak merugikan orang lain.
Mungkin saatnya kita mengubah cara pandang dan menghargai keunikan setiap individu tanpa harus melabeli mereka dengan istilah yang kurang pantas.
Dalam konteks bahasa Indonesia, “Maghrib” merujuk pada waktu salat Maghrib, yaitu waktu yang dimulai setelah matahari terbenam dan berlangsung hingga malam tiba.
Dalam agama Islam, waktu Maghrib adalah salah satu dari lima waktu salat wajib yang harus dilakukan oleh umat Muslim.
Secara etimologis, “Maghrib” berasal dari bahasa Arab yang berarti “terbenam” atau “terakhir”. Ini merujuk pada waktu ketika matahari mulai tenggelam di horizon, menandai akhir hari dan awal malam.
Selain sebagai waktu ibadah, Maghrib juga memiliki makna spiritual yang penting dalam tradisi Islam. (**)