Sabtu, April 25, 2026

Prabowo Lawan Gempuran Global, Klaim Ekonomi RI Tak Akan Takluk! Ini Caranya

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Dunia tengah berguncang oleh ketidakpastian ekonomi, dan Amerika Serikat kembali memicu gelombang dengan kebijakan tarif impornya. Namun Indonesia tidak tinggal diam. Presiden Prabowo Subianto langsung memimpin barisan dengan strategi nasional yang berani dan terukur: perluasan perdagangan global, hilirisasi sumber daya alam, dan penguatan konsumsi domestik.

Langkah ini bukan sekadar reaksi, tapi serangan balik strategis dalam menghadapi dampak kebijakan ekonomi global yang makin agresif. Pemerintah Indonesia tidak mau tunduk. Ketahanan ekonomi harus dibangun, bukan hanya dengan kata-kata, tapi aksi nyata di lapangan.

Penegasan itu disampaikan oleh Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) melalui Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi, Noudhy Valdryno, dalam pernyataan resmi pada Kamis (3/4/2025). Menurutnya, strategi ini dirancang khusus oleh Presiden Prabowo untuk memastikan roda ekonomi nasional terus bergerak meski diterpa tekanan global.

“Dengan langkah ini, Indonesia tidak akan hanya bertahan. Kita akan tumbuh, kita akan memimpin,” ujar Noudhy dengan nada tegas, dikutip dari Antara.

Prabowo tak ingin Indonesia hanya jadi penonton. Salah satu langkah nyatanya adalah mengajukan keanggotaan dalam BRICS—kelompok negara raksasa yang menguasai hampir separuh perdagangan dunia. Ini bukan sekadar simbol diplomasi, tapi perluasan pengaruh Indonesia dalam poros ekonomi global.

Langkah ini memperkuat posisi Indonesia setelah sebelumnya aktif dalam skema multilateral seperti RCEP dan negosiasi keanggotaan OECD. Bahkan, pemerintah juga masih melanjutkan pembahasan perjanjian penting seperti CP-TPP, IEU-CEPA, dan I-EAEU CEPA.

“Perdagangan bebas harus jadi jalan untuk memperkuat posisi bangsa, bukan membuka celah ketergantungan,” lanjut Noudhy.

Strategi berikutnya adalah percepatan hilirisasi. Di era Prabowo, sumber daya alam bukan lagi untuk diekspor mentah-mentah. Pemerintah membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk memaksimalkan potensi sektor strategis seperti mineral, migas, hingga kelautan.

Hilirisasi ini bukan hanya untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membangun pondasi industrialisasi yang tahan banting. “Indonesia sedang membangun mesin ekonominya sendiri. Tidak tergantung, tidak tunduk,” tegasnya.

Dengan pengelolaan aset sumber daya yang lebih matang, Indonesia berharap bisa mandiri dalam investasi, mengurangi ketergantungan modal asing, sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja nasional.

Tak berhenti di situ, penguatan konsumsi rumah tangga menjadi kunci ketiga. Program makan bergizi gratis bagi pelajar dan kelompok rentan ditargetkan menyentuh 82 juta penerima hingga akhir 2025. Ini bukan sekadar program sosial, tapi suntikan energi langsung ke denyut ekonomi rakyat.

Di sisi lain, pembentukan 80.000 Koperasi Merah Putih juga sedang digencarkan untuk memperkuat ekonomi desa dan mendorong wirausaha lokal. Ini menjadi alat gerak ekonomi mikro agar tak stagnan di tengah gejolak global.

“Selama ini konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen terhadap PDB. Kalau kita kuatkan sektor ini, pertumbuhan ekonomi akan tetap hidup bahkan saat krisis global melanda,” ujar Noudhy.

Strategi ini juga diarahkan untuk menekan ketergantungan pada barang impor. Pemerintah ingin memastikan bahwa kebutuhan dalam negeri bisa terpenuhi oleh produksi lokal—dari pangan hingga produk manufaktur.

Tak hanya melawan dampak dari tarif Trump, Indonesia juga bersiap untuk bernegosiasi dengan Pemerintah AS dalam semangat resiprokal. Diplomasi ekonomi akan dijalankan dengan prinsip saling menghormati dan menguntungkan.

Presiden Prabowo tidak ingin Indonesia jadi korban dari ketegangan global. Ia ingin menjadikan negeri ini sebagai kekuatan yang disegani, bukan lagi negara yang hanya menyesuaikan diri dalam setiap krisis.

Ketiga strategi ini, jika dijalankan secara konsisten, bukan hanya akan menjaga stabilitas. Ia akan membawa Indonesia ke babak baru dalam sejarah ekonominya: berdaulat, kuat, dan tahan segala tekanan. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.