MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Kemarin kita dikejutkan oleh temuan menjijikkan di salah satu program pemerintah. Seorang siswa SMP Negeri 1 Kota Semarang mendapati dua ekor larva menyerupai belatung keluar dari salak dalam menu makan siangnya.
Temuan itu terjadi saat siswa menikmati makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan di sekolah. Dalam video yang viral di media sosial, terdengar jelas keluhan siswa yang mengaku jijik dan terganggu.
“Ilham panganane maggot. Loro tok, Pak, metu seko salak pak, salake mambu pak,” ucap seorang siswa dalam bahasa Jawa, mengungkapkan kekesalannya sambil menunjukkan buah salak yang diduga menjadi sarang belatung.
Video itu menjadi viral setelah diunggah akun TikTok @sanantaz. Warganet sontak bereaksi, banyak yang geram, namun tak sedikit pula yang bertanya-tanya: sebetulnya, apakah makan belatung itu berbahaya?
Dalam penelusuran redaksi, situs kesehatan Alodokter.com menyebut bahwa secara umum tertelannya ulat buah tidak langsung membahayakan tubuh. Hal ini karena tubuh manusia memiliki sistem pertahanan, salah satunya adalah asam lambung.
Asam lambung diketahui cukup kuat untuk membunuh sebagian besar mikroorganisme, termasuk larva kecil seperti ulat buah yang mungkin tidak sengaja tertelan.
Namun, bukan berarti konsumsi ulat tidak menimbulkan risiko sama sekali. Pada beberapa orang, reaksi alergi atau iritasi lambung bisa terjadi, terutama jika sistem pencernaan cukup sensitif.
Gejala yang mungkin muncul antara lain diare, mual, muntah, atau gatal-gatal. Bila gejala seperti itu dirasakan setelah mengonsumsi makanan yang dicurigai mengandung ulat, maka disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Menurut Alodokter, ulat buah berbeda dari parasit seperti cacing pita atau kremi. Ulat tidak hidup dengan menghisap darah, sehingga kecil kemungkinannya menyebabkan infeksi serius dalam sistem pencernaan.
Namun tetap saja, menemukan belatung dalam makanan tidak bisa dianggap hal wajar, terutama jika makanan tersebut merupakan bagian dari program resmi pemerintah.
Kejadian ini pun memunculkan pertanyaan besar tentang kualitas pengawasan pada distribusi makanan MBG. Banyak pihak mendesak evaluasi menyeluruh terhadap dapur penyedia.
Kesehatan siswa seharusnya menjadi prioritas, dan kehadiran serangga atau larva dalam makanan bisa mengancam kepercayaan orang tua terhadap program tersebut.
Para ahli gizi juga menekankan pentingnya pemilihan bahan makanan yang segar, higienis, serta distribusi yang dilakukan dengan standar tinggi.
Jika program MBG ingin terus berjalan, maka transparansi dan pengawasan ekstra ketat harus jadi kunci utama. Satu kelalaian kecil bisa merusak kredibilitas seluruh sistem.
Pihak sekolah diminta tidak menyepelekan insiden ini. Meski belatung tidak selalu menimbulkan bahaya serius, rasa jijik dan trauma bisa berdampak psikologis pada anak-anak.
Masyarakat berharap ada investigasi terbuka dan tindakan nyata. Jangan sampai kualitas makanan sekolah hanya dinilai dari kuantitas tanpa menjamin aspek kebersihan.
Program bergizi seharusnya memberikan rasa aman dan kenyamanan. Jika siswa harus was-was sebelum makan, maka tujuan dari program ini gagal total.
Kini, perhatian tertuju pada dinas pendidikan dan penyedia makanan. Apakah akan ada perbaikan, atau hanya sekadar klarifikasi tanpa solusi konkret?
Temuan belatung ini bisa jadi momentum untuk mengevaluasi seluruh sistem makanan sekolah. Dan yang terpenting, jangan pernah anggap remeh keluhan siswa.
Karena satu ekor ulat bisa jadi tanda dari ribuan masalah yang tak terlihat. (**)