Selasa, Mei 5, 2026

Heboh Gelombang Boikot Trans7 Usai Tayangan Dinilai Hina Pesantren Lirboyo

Tagar #BoikotTrans7 menjadi viral di media sosial X (Twitter) sejak Senin malam hingga Selasa (14/10/2025) setelah program Xpose Uncensored Trans7 menayangkan segmen yang dianggap melecehkan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Tayangan yang disiarkan pada Senin, 13 Oktober 2025, menampilkan judul yang dinilai provokatif: “Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok? Kiainya Yang Kaya Raya, Tapi Umatnya Yang Kasih Amplop.” Dalam narasinya, pengisi suara menyinggung kehidupan pesantren dan kiai dengan cara yang dianggap merendahkan.

“Ketemu kiai nya masih ngesot dan cium tangan. Dan ternyata yang ngesot itulah yang ngasih amplop. Netizen curiga bahwa bisa jadi inilah kenapa sebagian kiai makin kaya raya,” ucap narator dalam tayangan tersebut. “Padahal kan harusnya kalau kaya raya mah umatnya yang dikasih duit enggak sih?” imbuh pengisi suara.

Potongan narasi ini memicu kemarahan publik, terutama dari kalangan pesantren dan alumni Lirboyo. Akun @cahpondok menulis, “Jangan sampai kejadian seperti ini terulang, banyak Kiai yang kaya dari hasil usaha mereka sendiri, atau banyak dari mereka yang hidup dengan serba kekurangan… banyak faktor yang tidak diklarifikasi oleh media sebesar @officialtrans7. Akhirnya sekali lagi kami serukan #BOIKOTTRANS7.”

Hingga pukul 09.48 WIB, tagar tersebut telah dicuitkan hampir 5.000 kali. Sebagian besar warganet menilai tayangan itu melecehkan lembaga keagamaan yang selama ini menjadi benteng moral bangsa. Namun, sebagian kecil lainnya justru menilai tayangan itu menggambarkan kenyataan di lapangan.

“Tapi itu fakta ga? Soal ngasih amplop, hidup bermewah-mewahan, hormat yang terlalu berlebihan?” tulis seorang warganet.

“Terima kasih @TRANS7 sudah mengungkap fakta,” cuit pengguna lainnya.

Kecaman terhadap Trans7 juga datang dari berbagai pihak. Perkumpulan Ikatan Keluarga Alumni Asshiddiqiyah (IKLAS) menilai tayangan tersebut mencederai etika jurnalistik dan menuntut Trans7 meminta maaf secara terbuka.

“Kami mengecam atas ucapan pengisi suara yang mencederai etika dalam bernegara dengan tidak mengutamakan research yang mendalam dan cermat,” tulis IKLAS dalam pernyataannya, Selasa (14/10/2025).

Mereka memberi tenggat waktu 1×24 jam agar Trans7 menyampaikan permohonan maaf. Jika tidak dilakukan, mereka mengancam akan melaporkan ke Dewan Pers dan melakukan unjuk rasa untuk menuntut penutupan stasiun televisi tersebut.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Oleh Soleh, juga mengecam keras tayangan itu. “Program itu telah melecehkan simbol-simbol keagamaan, terutama kiai dan pesantren yang selama ini menjadi penjaga moral bangsa. KPI tidak boleh tinggal diam. Hentikan programnya dan audit total TRANS7,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion, menyebut tayangan tersebut melanggar hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 1999.

“Kiai bukan hanya individu, tetapi tokoh spiritual yang dihormati dan menjadi panutan dalam masyarakat pesantren. Merendahkan seorang kiai berarti juga merendahkan nilai-nilai moral, keagamaan, dan identitas komunitas santri,” tegasnya.

Ketua Umum GP Ansor, Addin Jauharudin, menilai pemberitaan tersebut tidak berimbang dan cenderung melakukan framing negatif terhadap tokoh agama. “Kiai bukan komoditas pemberitaan. Mereka adalah penjaga ilmu, moral, dan akhlak bangsa. Tidak boleh ada satu pun media yang menjadikan pesantren atau kiai sebagai bahan sensasi atau framing negatif,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyatakan bahwa pihaknya akan menempuh jalur hukum terhadap tayangan tersebut.

“Saya telah menginstruksikan kepada Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum PBNU untuk mengambil langkah-langkah hukum yang diperlukan terkait hal ini,” ucapnya. “Tayangan Trans7 itu isinya secara terang-terangan melecehkan bahkan menghina pesantren, menghina tokoh-tokoh pesantren yang sangat dimuliakan oleh Nahdlatul Ulama.” Gus Yahya juga menuntut Trans7 dan Trans Corporation memperbaiki kerusakan sosial yang ditimbulkan.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Ubaidillah, turut menyayangkan program tersebut. “Penyiaran ditujukan untuk menjadi jembatan yang bisa mengukuhkan integrasi nasional. Tayangan ini justru menimbulkan kegaduhan karena dinilai menyinggung suasana kebatinan pesantren,” ujarnya. Ia memastikan kasus ini akan dibawa ke sidang pleno KPI untuk menentukan langkah resmi yang akan diambil.

Di tengah gelombang kritik, Trans7 akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun X resmi dan surat bernomor 399/DSMA-PR/25 yang ditandatangani Kepala Departemen Programming Renny Andhita dan Direktur Produksi Andi Chairil.

“TRANS7 dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap Kiai dan Keluarga, para Pengasuh, Santri, serta Alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” tulis pihak Trans7. Mereka berkomitmen untuk tidak lagi menayangkan pemberitaan yang berkaitan dengan ulama atau pesantren dalam program yang tidak relevan, serta akan menghadirkan tayangan yang menampilkan nilai-nilai positif kehidupan pesantren.

Andi Chairil dalam pernyataannya di kanal YouTube Trans7 Official mengakui kelalaian pihaknya. “Kami tidak berlepas tanggung jawab atas kesalahan tersebut. Kami mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya atas kelalaian kami,” ujarnya. Ia juga menyebut telah menghubungi Gus Adib, salah satu putra KH Anwar Manshur, untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

Hingga berita ini diturunkan, Trans7 menyatakan telah melakukan evaluasi internal dan berjanji memastikan kejadian serupa tidak akan terulang di masa mendatang.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.