Selasa, Mei 5, 2026

Butet ke Sultan HB X: Kita Panen Keracunan MBG, Etika Bangsa Juga Ambyar

Seniman dan budayawan Butet Kertaredjasa menyoroti maraknya kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam acara Forum Sambung Rasa Kebangsaan di Gedung Sasono Hinggil Dwi Abad, Keraton Yogyakarta, Minggu (26/10). Acara tersebut turut dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, eks Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Wakapolri Ahmad Dofiri, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, hingga jurnalis Rosiana Silalahi.

Butet menilai fenomena siswa yang keracunan massal baru muncul setelah program MBG dijalankan.
“Hari ini, kita panen orang keracunan karena MBG dan itu seakan-akan menjadi hal yang biasa,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat tidak menormalkan kasus keracunan tersebut, mengingat program itu seharusnya menjamin keamanan pangan bagi anak sekolah.
“Satu siswa keracunan itu jumlahnya terlalu banyak. Kita tidak bisa menganggap ribuan orang keracunan sebagai suatu hal yang biasa,” kata Butet.

Selain soal MBG, Butet juga menyinggung hilangnya etika di masyarakat dan pejabat publik. Ia mencontohkan adanya mantan pejabat yang mengaku menjilat demi kekuasaan. “Pemimpin boleh berjanji, tapi sekaligus boleh mengingkari. Sedih, iki model apa. Saya membayangkan pemimpin itu adalah guru yang wajib digugu dan ditiru, diteladani. Lah kok sekarang saya seperti kesulitan mendapatkan pemimpin yang pantas saya teladani untuk menjadi Indonesia damai,” tuturnya.

Sambil mengutip pesan KH Ahmad Dahlan, Butet menegaskan pentingnya mengkritik hal-hal yang keliru. “Biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Hari ini, apa yang kita lihat yang seakan-akan menjadi biasa itu harus kita kritisi. Itu tidak biasa,” katanya. Ia pun menutup pernyataannya dengan kalimat tegas, “Etika hari ini memang sedang ambyar.”

Kasus dugaan keracunan akibat MBG memang terus berulang di DIY. Pada pertengahan Oktober 2025, total 491 siswa dari SMAN 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta menjadi korban. Kasus terbaru pada 24 Oktober menimpa sekitar 215 siswa dari MAN 7 Sleman, SMPN 2 Mlati, dan SD Jombor Lor. Tujuh guru SMPN 2 Mlati juga dilaporkan mengalami gejala serupa.

Menanggapi hal ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai target produksi MBG oleh Badan Gizi Nasional (BGN) perlu kembali dikurangi. Menurutnya, jatah produksi dua ribu porsi MBG per hari untuk satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebaiknya dibagi ke beberapa sub dapur agar tidak menurunkan kualitas makanan.

“Lah kalau masaknya sampai dua ribu hanya satu kelompok, yang namanya (potensi) keracunan akan selalu terjadi,” ujar Sultan. Ia menilai persoalan utama bukan pada bahan makanan, melainkan pada cara pengolahan yang tidak memahami daya tahan makanan.

“Masalahnya saya bisa masak, sering masak di rumah. Nek saiki sing pejabat e ora tau masak, ora tau ning dapur, ora ngerti dapur, suruh ngurusi yo ora ngerti,” pungkas Sultan.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.