Isu kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia kembali mencuat seiring pembahasan potensi impor minyak. Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, menegaskan bahwa tidak ada perlakuan khusus dalam transaksi tersebut.
Menurut Sergei, pembelian minyak dari Rusia tidak dilakukan langsung oleh pemerintah, melainkan melalui skema business to business (B2B) antarperusahaan. Ia juga mengungkapkan banyak negara mencoba meminta harga khusus karena kedekatan hubungan.
“Cukup banyak negara saya mendengar, bisakah Anda menjual minyak kepada kami dengan harga kawan?,” kata Sergei saat ditemui di Kantor Radio Sonora, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
“Teman-teman, ini adalah ekonomi pasar, tidak ada teman dalam bisnis,” katanya lagi.
Ia menjelaskan, Rusia sempat memberikan diskon pada 2022 saat menghadapi sanksi ekonomi akibat konflik dengan Ukraina. Namun kini, kebijakan tersebut telah berubah.
“Saya mendengar Pak Tsivilev Menteri Energi Rusia dan Wakil Perdana Menteri Pak Novak yang menangani kerja sama energi mengatakan, ‘tidak ada diskon sekarang, ini terkadang bahkan ada harga premium (lebih tinggi)'” kata Sergei.
“Jadi kami mendapatkan lebih banyak uang daripada harga normal. Tapi inilah ekonomi pasar, inilah situasinya sekarang,” imbuh dia.
Meski begitu, Rusia tetap membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, selama ada keseriusan dalam kontrak jangka panjang.
“Jika mereka serius, jika mereka ingin memiliki kontrak jangka panjang dan membeli minyak usia, bahkan untuk mereka (negara barat) pun kami siap menyediakan. Itu bukan masalah, kami adalah pemasok sumber daya yang sangat bertanggung jawab dan berkelanjutan,” ucapnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kerja sama energi dengan Rusia tetap berjalan sesuai mekanisme pasar tanpa adanya perlakuan khusus.