MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Meski ejakulasi yang sering tidak selalu berdampak buruk pada kesehatan pria, ada beberapa situasi di mana frekuensi ejakulasi yang tinggi bisa menimbulkan efek negatif.
Salah satu efek yang mungkin timbul adalah kelelahan fisik. Proses ejakulasi melibatkan sejumlah otot dan energi, dan jika dilakukan terlalu sering tanpa jeda yang cukup, tubuh bisa merasa lelah dan lemah.
Ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan produktivitas seseorang, terutama jika ejakulasi sering terjadi di malam hari dan mengganggu pola tidur yang sehat.
Selain itu, ejakulasi yang terlalu sering dapat menyebabkan iritasi pada organ genital. Gesekan yang berulang dan kurangnya waktu untuk pemulihan dapat menyebabkan luka kecil atau iritasi pada kulit di sekitar area genital, yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan atau bahkan infeksi jika tidak ditangani dengan baik.
Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang sering masturbasi dengan teknik yang tidak tepat atau tidak menggunakan pelumas yang memadai.
Dari perspektif psikologis, ejakulasi yang terlalu sering bisa menjadi tanda perilaku kompulsif atau kecanduan seksual.
Ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental, menyebabkan perasaan bersalah, kecemasan, atau stres. Kecanduan seksual juga dapat mengganggu hubungan interpersonal dan sosial, mengisolasi individu dari kegiatan sosial atau tanggung jawab yang penting.
Jika ejakulasi sering terjadi sebagai akibat dari kecanduan pornografi, ini juga bisa memengaruhi persepsi seseorang tentang seksualitas dan hubungan intim yang sehat.
Mengutip Haibunda, Dr Somendra Shukla, Spesialis Infertilitas mengatakan bahwa sebuah penelitian menemukan pria yang lebih sering masturbasi memiliki kadar testosteron yang lebih tinggi dibandingkan pria yang tidak terlalu sering melakukan ini.
“Studi lain menemukan bahwa pria yang lebih sering ejakulasi memiliki tingkat hormon pertumbuhan yang lebih tinggi, yang merupakan pahlawan dalam pertumbuhan dan perbaikan otot,” kaya Shukla dilansir dari IndiaIVF.
Sebenarnya tidak ada batasan frekuensi pria mengeluarkan sperma. Sebagian pria mengeluarkan sperma sehabis berimajinasi atau melakukan hubungan intim sebanyak 1-2 kali per minggu, tetapi ada juga yang mengeluarkan sperma setiap hari. Apa ada efek samping mengeluarkan sperma bagi tubuh?
Kendati begitu, masturbasi setiap hari bukan tanpa risiko. Risikonya pun beragam. Sebab, masturbasi merupakan aktivitas yang memiliki dampak fisik dan psikologis.
Berikut tujuh efek samping dari mengeluarkan sperma setiap hari.
- Energi berkurang
Aktivitas seksual baik itu hubungan intim maupun masturbasi cenderung membakar kalori dalam jumlah banyak. Ini artinya aktivitas yang mengeluarkan sperma akan memakan energi. Apabila hal tersebut dilakukan setiap hari maka energi sudah pasti berkurang setiap hari. - Penis bengkak
Rangsangan terhadap penis saat hubungan intim dapat membuatnya membesar dan menegang. Ini akan terus terjadi sampai mengeluarkan sperma. Artinya, penis mendapatkan tekanan yang besar sehingga berpotensi bengkok.
Ketika masturbasi dilakukan setiap hari, bukan tidak mungkin penis pun akan bengkak setiap hari.
- Kualitas sperma berkurang
Efek mengeluarkan sperma setiap hari lainnya adalah dapat memengaruhi kualitas sperma. Ketika sperma terus dikeluarkan, maka kepadatan atau kekentalan, volume, dan produksi air mani mungkin jadi berkurang.
Dengan masa produksi yang lebih singkat karena dikeluarkan setiap hari, maka kualitas sperma jadi berkurang.
- Durasi seks
Durasi seks juga dapat terpengaruhi dengan mengeluarkan sperma setiap hari. Masturbasi setiap hari akan mempengaruhi sensitivitas penis ketika menerima rangsangan. Apabila Ayah terlalu sering terangsang, penis jadi mudah masturbasi. Alhasil, durasi seks jadi lebih singkat dari biasanya. - Sering mimpi basah
Mengutip Healthwire, terkadang masturbasi berlebihan dapat membuat pria lebih sering mengalami mimpi basah dari biasanya. Sebenarnya, ketika pria ejakulasi tidak harus selalu mengeluarkan spermanya. Sebaiknya, atur frekuensi mengeluarkan sperma. - Ketagihan
Pria bisa ketagihan karena terlalu sering mengeluarkan sperma. Aktivitas seks, khususnya masturbasi dapat membuat tubuh memproduksi hormon dopamin atau hormon kebahagiaan. Apabila merasa puas maka muncul perasaan ingin mengulangnya lagi dan lagi hingga akhirnya ketagihan. - Jadi hiper-agresif
Masturbasi berlebihan dapat mempengaruhi perilaku seksual seseorang menjadi hiper-agresif. Hal ini tidak menyebabkan kepuasan seksual yang buruk ketika pria melakukannya dengan pasangan.
Kondisi ini dapat berdampak buruk ketika pria tak mempunyai pasangan tapi ingin terus melakukan hubungan seksual. Dampaknya, pria bisa saja mencari pelampisan di luar, baik secara legal dan ilegal. (**)