Rabu, April 22, 2026

Anggaran Negara Defisit Rp21.8 Triliun, Begini Kata Menteri Keuangan

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai mencatatkan defisit pada Mei 2024.

Defisit ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara pendapatan negara dan belanja negara. Penurunan pendapatan negara, yang bersamaan dengan peningkatan belanja negara yang pesat, menjadi penyebab utama dari kondisi defisit ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa hingga akhir Mei 2024, APBN mencatat defisit sebesar Rp 21,8 triliun.

Penurunan pendapatan negara ini dapat dikaitkan dengan beragam faktor, termasuk perlambatan ekonomi global yang berdampak pada ekspor dan penerimaan pajak. Selain itu, penerimaan negara dari sektor lain juga mengalami penurunan yang signifikan.

Sementara itu, belanja negara terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Belanja untuk infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan program sosial menjadi prioritas utama pemerintah, sehingga anggaran untuk sektor-sektor ini meningkat tajam.

Mengutip kompas.com, nilai itu setara dengan 0,10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Ini menjadi kali pertama APBN mencatat defisit pada tahun 2024.

Pada bulan sebelumnya, April, APBN masih mencatatkan surplus, yakni sebesar Rp 75,7 triliun, setara 0,33 persen terhadap PDB.

“Overall balance kita sudah mengalami defisit Rp 21,8 triliun atau 0,1 persen PDB,” ujar dia, dalam konferensi pers, di Kantor Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (24/6/2024).

Defisit itu dibentuk oleh pendapatan negara yang mencapai Rp 1.123,5 triliun, setara 40,1 persen target APBN. Nilai itu turun 7,1 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Penurunan pendapatan terjadi seluruh pos, mulai dari penerimaan pajak yang turun 8,4 persen, setoran kepabeanan dan cukai yang turun 7,8 persen, serta pendapatan negara bukan pajak (PNBP) turun 3,3 persen.

“Kita lihat pendapatan negara sampai akhir Mei memang mengalami tekanan, yaitu growth-nya negatif 7,1 persen,” katanya.

Di sisi lain, realisasi belanja negara mencapai Rp 1.145,3 triliun, setara 34,4 persen target APBN. Nilai ini melonjak 14 persen dari periode yang sama tahun lalu.:

Dengan realisasi tersebut, Sri Mulyani menyebutkan, keseimbangan primer masih mencatatkan surplus, yakni Rp 184,2 triliun. Keseimbangan primer merupakan total pendapatan negara dikurangi pengeluaran negara, di luar pembayaran utang.

Walaupun sudah mencatatkan defisit, Sri Mulyani bilang, pelaksanaan APBN masih sesuai rencana pemerintah.

Pasalnya, pada tahun ini pemerintah menyiapkan defisit APBN sebesar Rp 522,8 triliun atau setara 2,29 persen terhadap PDB. “Jadi kalau sekarang (defisit) masih 0,1 persen, kita masih relative on track dengan total overall balance tahun ini,” ucap Sri Mulyani. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.