Sabtu, April 25, 2026

DPR Sebut Evakuasi Juliana Marins Dinilai Terlalu Tradisional dan Minim Teknologi

Evakuasi wisatawan asal Brasil, Juliana Marins, yang jatuh di Gunung Rinjani, mendapat kritik tajam dari anggota Komisi V DPR RI. Dalam rapat bersama Kepala Basarnas, Senin (7/7/2025), sejumlah anggota DPR menilai proses evakuasi terlalu manual dan kurang didukung peralatan modern.

Anggota Komisi V, Mori Hanafi, menyebut evakuasi yang dilakukan tim gabungan Basarnas dan relawan, termasuk Rinjani Squad, masih mengandalkan cara-cara tradisional. Ia menyoroti aksi relawan Abdul Haris Agam yang harus menggunakan metode vertical rescue secara manual dengan tali sepanjang 600 meter.

“Bapak bayangkan, tali atau bentangan talinya itu 600 meter, Pak. Jadi narik 600 meter di dalam geografis yang luar biasa ekstrem itu memang sulit, Pak. Nah ini juga perlu perhatian, Pak, ke Basarnas menurut saya, Pak. Itu manual, Pak, digotong, Pak, ditarik ramai-ramai dari atas. Tentunya kami menghargai itu, tapi kalau menurut saya ke depan ini, Pak, itu sangat tradisional apa yang kita lakukan itu,” ucap Mori.

Pandangan serupa disampaikan oleh Tom Liwafa, yang juga duduk di Komisi V. Ia menyoroti ketiadaan penerjemah saat proses evakuasi berlangsung. Menurutnya, keberadaan translator sangat penting untuk mempermudah komunikasi dengan turis asing yang menjadi korban atau saksi dalam situasi darurat.

“Kemudian kalau misal memang harus ada peralatan khusus yang bisa mendeteksi suhu badan manusia, Pak. Karena ini berhubungan dengan media nasional, Pak,” katanya.

Tom juga menggarisbawahi pentingnya penggunaan bahasa asing dalam penyampaian informasi resmi di media sosial, terutama saat menyangkut wisatawan mancanegara. Ia menilai, Basarnas seharusnya menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam menyampaikan klarifikasi kepada publik internasional, bukan Presiden.

“Sikap empati kita memang harus kita tunjukkan juga. Kalau perlu kita kasih translator di situ. Atau rilis yang bahasanya sesuai dengan bahasa mereka. Jadi seandainya publik dari Brasil atau dari negara-negara lain itu perlu klarifikasi, domain-nya itu Basarnas. Bukan ke Presiden Prabowo Subianto,” ucapnya.

Insiden ini memicu gelombang komentar protes dari warga Brasil di akun Instagram Presiden Prabowo Subianto, menyusul kekhawatiran mereka terhadap keselamatan Juliana.

DPR menilai modernisasi peralatan dan sistem komunikasi darurat menjadi hal mendesak agar Basarnas mampu menjalankan tugas lebih efisien, profesional, dan humanis dalam menghadapi bencana maupun insiden yang melibatkan warga asing di masa mendatang.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.