DEPOK – Elisabeth Koesno sekeluarga sempat putus asa dan tak tahu lagi akan tinggal di mana. Sebab, 1 Juni nanti masa sewa kontrakannya di daerah Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat habis. Bahkan, sang pemilik kontrakan sudah mendatangkan pemborong karena rumah itu akan dibongkar.
Elisabeth Koesno merupakan istri pengawal Presiden RI Pertama, Serma R Koesno. Tak banyak yang tahu sejarahnya, namun, Serma R Koesno adalah pengawal pribadi yang ditunjuk langsung oleh Bung Karno pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Roland Anziano, cucu R Koesno menceritakan, kakeknya dipilih oleh Bung Karno lantaran pernah berjuang bersama di sejumlah peperangan masa kemerdekaan. Koesno merupakan anggota pasukan dari Jendral Soedirman.
“Waktu itu namanya Pasukan Pengawal Presiden, belum ada ajudan. Opa saya dipilih karena Bung Karno memang mencari anggota yang sedaerah dan menonjol di perang-perang gerilya,” ujar Roland kepada wartawan, Sabtu (29/5).
Roland menceritakan, mendiang Koesno memang tak banyak dikenal oleh publik tentang keterlibatannya. Namun ada banyak bukti bahwa Opanya merupakan salah satu pengawal Bung Karno pada masa 1950-1960an.
“Penembakan Istiqlal, terus beberapa peristiwa penting lainnya. Opa saya ada di situ,” katanya.
Serma R Koesno meninggal tahun 1998 dan meninggalkan seorang istri bernama Elisabeth Koesno yang dinikahinya pada kurun waktu 1950. Elizabeth Koesno keturunan Belanda-Indonesia, Ibunya berasal dari Purworejo.
Kesulitan demi kesulitan dialami keluarga Elizabeth Koesno. Lantaran sakit dari jatuh yang dia alami akhir tahun 2019 silam, dia musti menjalani perawatan yang tidak murah. Terakhir adalah ketidakmampuannya membayar kontrakan.
Namun kekhawatirannya itu sirna, sebab kemarin mendapat kabar bahwa kontrakannya telah dibayar. Pembayaran dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Bantuan ini pun diluar dugaan Elisabeth sekeluarga.
“Karena pak Ganjar tidak pernah menjanjikan apa-apa, dua minggu lalu saya kontak beliau lewat Instagram. Dibantu untuk bayar PDAM. Ini hadiah Hari Lansia. Dibayarkan kontrakan kami oleh pak Ganjar,” kata Roland.
Roland mengatakan, tagihan PDAM dibayar Ganjar sekitar dua minggu lalu sejumlah Rp 1,3juta. Sedangkan untuk kontrakan, dibayar full satu tahun sebesar Rp 25juta.
“Kami betul-betul tetimakasih, karena jujur aja kemarin sudah packing baju-baju kita bingung mau ke mana. Sempat bilang ke Pak Ganjar kalau ada tempat tinggal di Jawa kita juga mau, kecil-kecilan saja yang penting Oma nyaman. Ternyata malah dibayarin kontrakannya,” ucap Roland.
Sebagi informasi, Roland terpaksa membagikan kisah neneknya karena kesulitan yang dialami. Dia membagikan kisahnya melalui media sosial. Sejumlah tokoh negara di-mentionnya termasuk Ganjar Pranowo.
“Dulu Opa punya rumah di Pondok Gede, 2000 meter. Tapi ada sengketa dan kita akhirnya mengalah karena juga butuh uangnya untuk Oma. Nah dari situ kita mulai pindah-pindah kontrakan sampai yng saat ini kita tinggali,” katanya.
Namun, masa pandemi yang tak kunjung usai dan bantuan yang datang tak pernah jelas juntrungannya membuat kondisi ekonomi elisabeth koesno sekeluarga makin tak karuan.
“Pernah jual minyak gula beras itu hanya untuk beli (token) listrik. Banyak yang datang mengaku kasih bantuan, tapi saya cuma diminta tandatangan cek kosong setelah itu tidak ada bantuan yang datang. Ya alhamdulillah kadang orang-orang itu meninggalkan mie atau sembako atau uang,” kata Roland.
Roland mengaku dirinya tak bisa berhenti bersyukur, sebab Ganjar menolongnya tanpa babibu. Ganjar, kata Roland, tak pernah bicara apapun soal rumah kontrakan.
“Ya ndak menyangka, tahu-tahu sudah dibantu. Terimakasih banyak pada pak Ganjar,” katanya.