MELIHAT INDONESIA – Baby blues syndrome disebut sebagai faktor aksi Polwan Polres Mojokerto, Briptu Fadhilatun Nikmah (FN), yang membakar suaminya sendiri, Briptu Rian Dwi Wicaksono (RDW), di Aspol Polres Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (8/6/2024) pagi.
Diketahui, pasangan suami istri anggota Polri ini memiliki tiga anak, yang pertama berusia 2 tahun sementara anak kedua dan ketiga adalah kembar berusia 4 bulan.
Sang suami yang kecanduan judi online diduga jadi pemicu pertengkaran hingga puncaknya aksi pembakaran tersebut, hingga akhirnya korban meninggal dunia.
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri angkat bicara mengenai baby blues syndrome ini.
“Proses kehamilan dan persalinan menciptakan ‘guncangan’ hormon yang sifatnya signifikan,” kata Reza, Rabu (12/6/2024).
“Maka terjadilah kekacauan berpikir, kekacauan perasaan, itu menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan,” sambung dia.
Reza menjelaskan, ketika seorang ibu mengalami baby blues syndrome, maka ada kemungkinan perilakunya tidak koheren dengan cara berpikir.
“Ketika perempuan dianggap mengalami baby blues syndrome, maka sekali lagi kemungkinan perilakunya menjadi tidak koheren dengan berpikirnya,” ucap Reza.
Dikutip dari website halodoc, baby blues syndrome adalah kondisi mental berupa munculnya perasaan cemas dan sedih berlebihan pada wanita pasca melahirkan.
Bila tidak mendapatkan penanganan yang baik, kondisi ini bisa membahayakan kesehatan ibu dan bayi.
Baby blues berkaitan dengan perubahan emosional dan fisik yang terjadi saat melahirkan.
Penyebab baby blues syndrome:
- Adaptasi menjadi ibu
- Perubahan hormon
- Kelelahan dan kurangnya istirahat
- Memiliki riwayat masalah mental
Gejala baby blues syndrome:
- Muncul rasa sedih yang menyebabkan ibu menangis dan merasa depresi
- Emosi labil dan mudah marah
- Merasa kelelahan, sulit tidur dan sering sakit kepala
- Kecemasan dan ketakutan yang tidak beralasan. (*)