MELIHAT INDONESIA – Banjir parah yang melanda wilayah pantai utara (pantura) Jawa Tengah (Jateng), khususnya wilayah Kabupaten Demak, Kudus, Pati, dan Grobogan, seringkali dikaitkan dengan keberadaan Selat Muria di masa lalu.
Lantas seperti apakah Selat Muria itu?
Dirangkum Melihat Indonesia dari berbagai sumber, dahulu Selat Muria diketahui merupakan jalur perdagangan yang ramai dengan kota-kota seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana.
Selat Muria menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Muria. Bukti keberadaan Selat Muria pada zaman dahulu ditemukan di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Fosil kerang laut dan batuan karang yang masih berdiri menjadi saksi bisu akan eksistensi selat yang kini hilang tersebut.
Selain itu, ketika membuat sumur bor dengan kedalaman 20 meter, air yang keluar merupakan pasir dan memiliki rasa asin seperti air laut.
Keberadaan fosil dan fenomena air asin ini memberikan gambaran akan kejayaan Selat Muria yang kini lenyap, seolah ditelan bumi.
Berdasarkan informasi yang dipaparkan dalam buku ‘Benantara’ karya Bukhori Masruri, bahwa perairan Selat Muria mengalami endapan fluvio-marin.
Istilah ini merujuk pada proses yang berkaitan dengan sungai dan aliran, serta endapan dan bentang alam yang dihasilkan.
Kondisi tersebut menyebabkan Selat Muria mengalami pendangkalan secara berkala.
Fenomena yang terjadi itu pun lantas menjadi masalah utama yang harus dihadapi oleh pelabuhan-pelabuhan yang ada di sepanjang Selat Muria.
Meskipun di era tahun 1657 sempat diusulkan untuk melakukan pendalaman kembali Selat Muria, tetapi kondisinya sudah sampai ke tahap berubah menjadi perairan dangkal yang tidak lagi bisa dilalui oleh kapal besar.
Pendangkalan inilah yang menjadi awal terbentuknya daratan rendah yang sekarang menjadi wilayah bernama Demak, Kudus, Pati, hingga Rembang. (*)