Sebuah kisah pilu datang dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Seorang anak harus putus sekolah karena nilai akademiknya dianggap tidak memenuhi harapan orang tua. Sang anak yang tak meraih peringkat satu seperti yang diinginkan, akhirnya tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan dan justru diminta berjualan untuk membantu ekonomi keluarga.
Kondisi ini memantik perhatian publik karena menunjukkan masih adanya tekanan terhadap anak untuk meraih prestasi secara mutlak, tanpa mempertimbangkan semangat belajar dan potensi lainnya.
Banyak yang menilai, sebagai orang tua, seharusnya peran utama adalah menjadi penyemangat, bukan pemberi batasan yang menekan. Anak-anak berhak mendapat dukungan dan kesempatan untuk tumbuh sesuai kemampuannya, bukan sekadar memenuhi ambisi ranking.