Selasa, April 21, 2026

Tagihan Listrik Mencekik Setelah Diskon Usai, Warganet Protes, PLN Bilang Bukan Salah Kami!

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Bulan berganti, tagihan listrik pun ikut berubah drastis. Warganet mendadak geger setelah tarif listrik yang sebelumnya ‘dimanjakan’ diskon 50 persen, kini kembali ke tarif normal. Bukan naik seribu dua ribu, sebagian mengaku tagihannya langsung melonjak dua kali lipat.

Media sosial X pun jadi arena curhat massal. Akun @lagigabu***, Rabu (3/4/2025), menulis dengan nada terkejut, “Disini apakah ad kelonjakan tagihan listrik jg stelah subsidi yg 50 persen itu? kaget bgt, stelah promo subsidi abis, tagihan bulan ini jadi 2x lipat pembayarannya.”

Tagihan yang sebelumnya berada di kisaran Rp 280.000 sampai Rp 320.000 saat tidak ada subsidi, berubah drastis selama masa promo jadi Rp 140.000. Namun setelah subsidi berakhir, angka melonjak menjadi Rp 611.000. Lonjakan ini pun membuat banyak pelanggan meradang.

Kemarahan serupa dilontarkan akun X lainnya, @avenoor***, yang menuliskan: “Tarif naik hampir 50 persen dari harga biasa padahal penggunaan berkurang awkwkwk apa-apaan ini woi @pln_123.” Komentar seperti ini jadi semacam gema digital yang tak bisa diabaikan.

Mereka mempertanyakan: Apakah benar PLN diam-diam menaikkan tarif setelah periode subsidi selesai? Atau ini sekadar efek psikologis karena diskon telah berakhir?

PLN buru-buru angkat bicara. Melalui Vice President Komunikasi Korporat, Grahita Muhammad, perusahaan pelat merah itu menegaskan bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik untuk triwulan kedua 2025.

“Per tanggal 1 Maret 2025 atau setelah berakhirnya periode diskon tarif listrik 50 persen, maka tarif listrik kembali normal sesuai penetapan pemerintah,” kata Grahita saat dihubungi, Sabtu (5/4/2025).

Menurutnya, yang terjadi bukanlah kenaikan tarif, melainkan kembalinya tarif listrik ke harga semula. Diskon 50 persen yang diberikan sebelumnya memang hanya bersifat sementara dan sudah dijadwalkan berakhir akhir Februari 2025.

Namun tetap saja, logika masyarakat sulit menerima lonjakan yang terasa terlalu tajam, terlebih saat mereka merasa tidak ada peningkatan konsumsi listrik di rumah. Sebagian bahkan menyebut penggunaan alat elektronik mereka lebih sedikit dibanding bulan sebelumnya.

Grahita menanggapi dengan menyarankan agar pelanggan mengecek kembali pola penggunaan listriknya. “Adanya lonjakan tagihan listrik bisa disebabkan oleh pemakaian listrik yang meningkat,” ujarnya.

PLN juga menyarankan agar pelanggan pascabayar memanfaatkan fitur riwayat pemakaian di aplikasi PLN Mobile untuk melihat grafik penggunaan yang lebih rinci dan transparan.

Melalui aplikasi tersebut, pelanggan bisa memeriksa apakah benar ada kenaikan konsumsi, atau hanya efek psikologis karena sudah terbiasa melihat angka yang ‘dipotong diskon’.

Adapun cara ceknya cukup mudah: unduh aplikasi PLN Mobile, login, lalu pilih menu “Token & Pembayaran”, masukkan ID pelanggan, dan klik “Riwayat Penggunaan”. Dari sana, pelanggan bisa menelusuri rincian penggunaan listrik dari bulan ke bulan.

Namun tetap saja, polemik tak langsung reda. Masyarakat masih merasa ada yang janggal. Tak sedikit yang menduga sistem pencatatan konsumsi selama diskon bisa saja mempengaruhi perhitungan di bulan berikutnya.

Apalagi, dengan situasi ekonomi pasca-Lebaran yang biasanya penuh pengeluaran, lonjakan tagihan listrik justru terasa makin menyakitkan. Bagi keluarga menengah ke bawah, perubahan tagihan sebesar ratusan ribu rupiah sangat mempengaruhi anggaran rumah tangga.

Di sisi lain, PLN sejauh ini tetap pada pendiriannya: tarif tidak naik, diskon memang sudah selesai, dan pelanggan disarankan lebih aktif memantau pemakaian masing-masing.

Meski secara hukum tidak ada pelanggaran, lonjakan tagihan ini tetap menjadi tamparan bagi komunikasi publik. Kurangnya sosialisasi soal berakhirnya diskon dan potensi efeknya tampaknya menjadi celah yang dimanfaatkan warganet untuk bersuara.

Kini, yang jadi pertanyaan besar adalah: akankah PLN kembali menawarkan program diskon serupa di masa mendatang? Atau pelanggan harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa tarif normal kini jadi harga mati? (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.