Salat Tarawih kilat 23 rakaat dengan durasi sekitar 13 menit masih rutin digelar di Ponpes Mambaul Hikam atau Pondok Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Tradisi yang telah berlangsung sejak 1907 ini tetap bertahan dan setiap Ramadan diikuti ratusan jemaah.
Saat awal media mendatangi lokasi Salat Tarawih kilat itu saat Ramadan. Sejumlah rombongan jemaah hadir untuk mengikuti Salat Tarawih itu. Mereka datang sebelum Isya’. Bahkan, parkiran kendaraan penuh hingga gang masuk masjid.
Adapun Salat Tarawih cepat didominasi jemaah laki-laki yang memenuhi pelataran atau halaman masjid. Sementara, jemaah perempuan berada terpisah di Aula Ponpes yang jaraknya tak jauh dari masjid utama.
Sesuai dengan sebutannya, Salat Tarawih kilat berlangsung cepat. Meskipun tarawih dilaksanakan berjumlah 23 rakaat, namun durasinya hanya sekitar 13 menit. Sejumlah jemaah tampak sudah terbiasa dengan kecepatan salat tersebut.
Meskipun durasinya cepat, Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam (Pondok Mantenan), KH Muhammad Dliya’uddin Azzamzami alias Gus Dliya’ menegaskan, tarawih ini tidak mengurangi rukun maupun kesunahan dalam salat. Termasuk bacaan al fatihah, surat pendek dan kesunahan lainnya dalam salat juga dilakukan.
“Ini yang perlu digarisbawahi, tarawih di pondok mantenan ini meskipun cepat tidak mengurangi rukun dan tidak mengurangi kesunahan-kesunahan dalam salat. Standarnya biasanya 13 menit, kadang yang 15 menit. Tapi kalau imamnya pas muda bisa jadi lebih cepat lagi,” kata Gus Dliya’ saat ditemui detikJatim usai salat tarawih kilat, Sabtu (21/2/2026).
Saat ini, Gus Dliya’ menyebut salat tarawih cepat masih banyak diminati. Meskipun tidak mengetahui secara pasti jumlah jemaah yang hadir setiap harinya.
“Tidak tahu jumlahnya berapa, tapi mari meningkatkan ibadah di bulan suci Ramadan yang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Saling menjaga kerukunan, menghargai perbedaan dan menjaga ukhuwah islamiyah,” terangnya.
Jemaah salat tarawih cepat tidak hanya berasal dari warga sekitar Ponpes Mambaul Hikam. Namun, sejumlah jemaah juga berasal dari Tulungagung dan Kediri. Ratusan jemaah mengikuti salat tarawih kilat tersebut setiap hari selama bulan suci Ramadan.
Salah seorang jemaah asal Sambi, Kediri yakni Mutiah (50) mengaku rutin mengikuti salat tarawih cepat sejak dulu. Perempuan yang selalu datang bersama suaminya itu mengaku sudah terbiasa dengan gerakan tarawih cepat.
“Sudah terbiasa cepat, karena sudah ikut salat di sini sejak lama sekali. Jadi setiap Ramadan pasti salat Tarawih di sini, berangkat bersama suami yang kebetulan juga dulu kecil di sini,” tandasnya.