SURABAYA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan pengundian nomor urut dan penetapan tiga pasangan capres-cawapres Pemilu 2024 hari ini, Selasa (14/11/2023). Dengan demikian, tiga pasangan capres-cawapres 2024, termasuk Gibran Rakabuming Rakat telah secara resmi ditetapkan sebagai daftar calon tetap (DCT) oleh KPU RI.
Pengamat sekaligus Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Profesor Henri Subiakto, mengkritisi putra Presiden Joko Widodo yang akhirnya lolos sebagai cawapres setelah mendapat bantuan dari adik iparnya, Anwar Usman yang baru saja dicopot dari jabatan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).
“Dengan ditetapkannya Anak Presiden sebagai Cawapres termuda lewat cara mengubah norma oleh MK, telah menjadi pelajaran yg bisa dipetik bagi warga,” tulis pengamat komunikasi politik ini melalui akun Twitter-X miliknya, @henrysubiakto Selasa (14/11/2023).
Ia mengatakan, skandal yang terjadi di MK bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat. Bahwa, penguasa saat ini tidak lagi memikirkan masa depan rakyatnya, namun lebih mementingkan kepentingan dan kekuasaan keluarganya.
“Intinya dalam memimpin politik Negara, ternyata ada yg tidak bisa percaya pada siapapun, kecuali hanya pada diri sendiri atau keluarga. Masa depan itu harus ditangani sendiri, minimal oleh dinasti. Orang lain maaf tidak bisa dipercaya. Kalaupun terpaksa masih ada, mungkin itu hanya untuk sementara,” tulisnya.
Henri juga mengungkapkan pelajaran kedua yang dapat dipetik dari situasi politik saat ini, yaitu bahwa siapapun yang banyak berjasa, hanya bisa menjadi teman sejalan ketika dibutuhkan. Kepentingan pribadi harus tetap didahulukan, meski lewat ikatan kepentingan ataupun keterpaksaan.
“Pelajaran kedua, siapapun walau banyak berjasa, mereka hanya bisa jadi teman sejalan saat dibutuhkan. Ketika kepentingan pribadi harus didahulukan, mereka yg sudah berjasapun harus ditinggalkan. Saatnya bersama yg lain lewat ikatan kepentingan, atau keterpaksaan,” tulisnya.
Henri juga bependapat bahwa, saat ini penguasa menerapkan apa yang menjadi pandangan filsuf abad modern yang cukup dikenal dalam ilmu politik termasuk filsafat politik, Niccolo Machiavelli. Salah satu pandangan filsuf muda asal Italia ini adalah mengenai kekuasaan yang harus direbut dengan berbagai cara.
Tak peduli harus memakai trik yang paling kotor sekalipun. Dan, jika kekuasaan sudah di genggaman, patut dipertahankan dengan kekuatan. Bahkan, jika memang perlu sang penguasa harus bisa mencitrakan diri dengan berperilaku sesuci anak domba hingga seganas seringai kelicikan rubah.
“Itulah politik Machiavelian, yg sekarang dijalankan. Nah kalau yg lama yg berjasa saja bisa ditinggalkan dan dilupakan, apalagi yg masih baru. Terlebih dulunya pernah melawan. Pernah melecehkan. Pernah menghinakan dan pernah merendahkan. Tinggal menunggu giliran. Atau kesempatan. Kita lihat saja episode politik selanjutnya. Apakah akan ada drama drama politik lanjutan. Drama yg lebih sadis dan tragis? Semoga cukup sampai disini, tak harus lagi ada cerita drama berseri seri,” tulisnya.