Sabtu, Mei 2, 2026

Pertanyaan untuk Mas Gibran

Putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka yang akhirnya resmi menjadi calon wakil presiden Prabowo dalam pilpres 2024, usai ditetapkan oleh KPU pada Selasa (16/11/2023). Namun, pencalonanya masih menyisakan pertanyaan bagi masyarakat.

Banyak masyarakat yang masih bertanya. Tak ada yang tahu secara pasti kenapa ayah dan anak ini tiba-tiba berubah sikap, mengkhianati partai, melukai hati masyarakat, dan juga menabrak konstitusi.

Pegiat media sosial Prihati Puji Utami melalui akun twitter-X @Prihati_utami juga ikut mempertanyakan alasan Gibran dan Jokowi melakukan hal tersebut. Pertanyaan dari mantan jurnalis senior ini seolah mewakili pertanyaan dari jutaan masyarakat, termasuk para budayawan dan para kalangan intelektual yang tak henti-hentinya menyampaikan seruan kepada Gibran dan Jokowi.

“Sebuah pertanyaan untuk Mas @gibran_tweet Nomor urut sudah ditentukan, pasangan calon sudah ditetapkan. Artinya, Mas Gibran benar-benar melenggang maju dalam kontestasi Pilpres 2024. Ada pertanyaan yang terus saja muncul, tapi saya belum tahu pasti jawabannya,” tulis Puji mengawali pertanyaanya sambil menandai akun Gibran Rakabuming Raka.

Ia mempertanyakan, kenapa Gibran tetap ngotot menjadi cawapres meski putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuatnya bisa mendaftar sebagai cawapres di KPU dinyatakan melanggar etik. Paman Gibran yakni Anwar Usman yang memutus perkara gugatan tersebut terbukti telah melanggar etik berat shingga dicopot sebagai ketua MK.

Bahkan, adik ipar Jokowi yang sebelumnya menjabat ketua Mahkamah Konstitusi (MK) juga ikut membantu Gibran agar memenuhi syarat batas usia untuk mendaftar ke KPU sebagai cawapres, dengan menabrak konstitusi dan melanggar etik hakim MK. Para pakar hukum bahkan menyebut bahwa putusan MK terkait batas usia capres cawapres, cacat hukum karena ditemukan adanya pelanggaran etik berat.

“Sedunia tahu keputusan yang diambil oleh Paman Mas Gibran itu CACAT HUKUM karena melanggar Etik berat. Seolah tak ada rasa bersalah, Mas Gibran justru terus saja melenggang. Padahal itu adalah sebuah noda dari perjalanan hidup dan karir seorang Mas Gibran yang masih sangat muda,”

Menurutnya, seandainya Gibran lebih bersabar dan melalui setiap proses pembentukan jati diri, karir Gibran mungkin akan lebih cemerlang. Bukan karena nama besar ayahnya yang menjabat sebagai presiden, namun berkat karir yang dia rintis secara mandiri.

Pertanyaan lain, yang juga ada di pikirannya adalah kenapa Jokowi justru merestui putranya menjadi cawapres sosok yang selalu dikaitkan dengan kasus pelanggaran HAM dan juga direpresentasikan sebagai bagian dari rezim orde baru (orba). Terlebih, Prabowo adalah lawan politiknya dalam pilpres 2014 dan 2019.

“Yang saya masih bingung, kenapa begitu ngotot? Dan mendampingi seorang Prabowo Subianto yang dalam 2 kali kontestasi menjadi lawan bapaknya Mas Gibran. Semua tahu rekam jejaknya. Prabowo berubah? hhhmmm…. Mas, besok pun kalau kamu terpilih, kan ya hanya wapres to, karena presidennya tetap Prabowo,” tulisnya.

Ia menduga, Gibran dan Jokowi mempunyai deal tertentu, hingga rela mengkhianati partai yang telah membesarkan karirnya demi bisa memperpanjang kekuasaan. Gibran yang saat itu masih terdaftar sebagai kader PDIP, secara tiba-tiba maju sebagai cawapres setelah dideklarasikan Partai Golkar.

“Mas Gibran, seorang anak muda yang mengikuti jejak langkah bapaknya. Lahir dan besar dari partai politik bernama PDI Perjuangan, belum lepas dari PDI Perjuangan langsung ke Golkar dan dalam waktu super singkat mencalonkan diri jadi cawapres (saat itu masih kader PDI P kan?),” tulisnya.

Puji yang mengikuti jejak karir politik Jokowi dan Gibran sejak awal ini menganggap keduanya tidak lagi mempunyai etika. Jokowi yang awalnya dikenal sebagai sosok merakyat dan santun, tiba-tiba menjadi sosok yang haus kekuasaan.

“Mungkin, bagi dunia perpolitikan pindah itu hal biasa. Tapi apakah seinstan ini? Sebab, bagi saya yang melihat Mas Gibran dan bapaknya dari dulu, kok jadi merasa beliau-beliau ini nggak punya etika ya… Karena apa? Saya mengikuti jejak langkah Pak Jokowi sejak dari wali kota Solo. Pak Jokowi yang dikenal merakyat dan dengan sopan santun yang baik, nyatanya anaknya melakukan hal ngawur pun tak ditegur. Atau justru malah merestui? Atau justru malah memang diminta begitu? Entahlah….,” katanya.

Jika memang kekuasaan yang diinginkan Gibran dan Jokowi, mereka bisa jauh-jauh hari mengundurkan diri sebagai kader PDIP. Sehingga semuanya tidak terkesan grusa-gurus, ngawur, dan tidak beretika.

“Kalau mau, sebenarnya bisa saja mundur dari PDIP jauh-jauh hari. Keputusan di MK soal syarat capres cawapres diumumkan jauh-jauh hari, mundurlah dari wali kota jauh-jauh hari, jadi nggak terkesan mendadak grusa grusu dan ngawur serta ngebet banget banget banget hingga tidak beretika,” ungkapnya.

Ia juga menanyakan, kira-kira apa yang akan diceritakan kepada anak cucu mereka dengan segala skenario yang dibuat demi melanggengkan kekuasaan. Dia juga menanyakan, apakah keduanya sudah yakin akan menang, atau malah akan melakukan segala cara agar menang.

“Mas, apa yang akan kamu ceritakan ke generasi berikutnya? Apa? Ini adalah sebuah kontestasi pilpres yang seharusnya menjadi bahan pembelajaran bagi anak negeri, bagaimana menjaga Indonesia ini dengan baik dan bermartabat. Pembelajaran bagi anak negeri yang harus bisa membersamai setiap proses menuju kematangan untuk memimpin. Mas, masih nggak masuk nalar saya kalau kamu ini begitu ngotot dan ngebet. Apa sih alasan dibalik itu?,” imbuhnya.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.