Selasa, April 28, 2026

Dolar Terus Meroket, Industri Tekstil Siap-siap Gulung Tikar Tunggu Waktu Saja

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membawa dampak signifikan, terutama bagi industri tekstil.

Dengan kurs yang mencapai Rp 16.400 per dolar AS, industri tekstil kelas menengah diprediksi hanya mampu bertahan selama tiga bulan ke depan.

Situasi ini menunjukkan betapa rentannya sektor tersebut terhadap fluktuasi mata uang.

Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengungkapkan bahwa industri yang paling terdampak oleh melemahnya rupiah adalah manufaktur padat karya.

Dalam pandangannya, sektor tekstil dan garmen termasuk yang paling merasakan imbas dari depresiasi ini. Industri tersebut menghadapi tekanan berat akibat meningkatnya biaya bahan baku impor yang dibutuhkan dalam produksi.

Dengan nilai tukar yang terus melemah, biaya produksi meningkat tajam, menyebabkan banyak perusahaan tekstil kesulitan untuk mempertahankan operasionalnya.

Imbas dari kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh produsen, tetapi juga oleh tenaga kerja yang bergantung pada sektor ini. Banyak pekerja yang terancam kehilangan mata pencaharian jika situasi ini tidak segera membaik.

“Industri tekstil dan garmen sudah lemah karena penurunan market share pasar domestik dan penurunan daya saing ekspor besar. Depresiasi rupiah semakin menekan sektor ini,” kata Shinta seperti dilansir cnbcindonesia.com, Senin, (24/6/2024).

Dia mengatakan kondisi rupiah yang terus menerus terdepresiasi akan semakin memperburuk kondisi industri tekstil ini.

Terlebih, kata dia, industri tekstil Indonesia harus bersaing dengan negara lain yang mengalami depresiasi mata uang yang lebih rendah dari rupiah. Akibatnya, kata dia, daya saing produk tekstil Indonesia akan semakin rendah.

“Bila depresiasi rupiah dan inflasi kebutuhan pokok berlanjut, industri manufaktur nasional berorientasi domestik akan menghadapi penurunan produktivitas dan kesulitan mempertahankan tenaga kerja,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, depresiasi rupiah ini tentu akan menghambat kinerja industri tekstil.

Menurut dia, banyak bahan-bahan industri tekstil masih bergantung dari impor, seperti kapas.

Redma paling mengkhawatirkan kondisi industri tekstil kelas menengah yang memiliki pekerja kurang dari 7.000 orang. Dia bilang untuk industri tekstil skala besar dengan jumlah pekerja di atas 10.000, mereka akan masih bisa bertahan karena arus kas yang besar dan bisnis yang berorientasi ekspor.

“Kalau yang menengah itu kan udah mulai tutup pabrik, yang bisa bertahan adalah yang cashflow-nya kuat dan ekspornya masih bagus,” kata dia.

“Mereka masih akan bertahan, tapi yang kelas menengah yang buruhnya di bawah 7.000 kemungkinan akan banyak yang kolaps,” katanya.

Redma memperkirakan dengan kondisi rupiah seperti sekarang, maka industri tekstil kelas menengah tak punya waktu lama untuk bisa bertahan. Dia memperkirakan mereka hanya akan mampu bertahan selama 3 bulan.

“Perkiraan maksimal 3 bulan akan banyak yang kolaps, sekarang sebenarnya udah banyak yang kolaps dan ini akan terus berguguran,” katanya. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.