MELIHAT INDONESIA – Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Bahlil menjadi sasaran kemarahan masyarakat.
Kebijakan Bahlil melarang warung kelontong dan pengecer menjual LPG 3 Kg dinilai sangat menyusahkan rakyat.
Bahlil menghadapi kemarahan warga saat mengecek pasokan gas 3 kg di Jakarta dan Tangerang pada Selasa (4/2/2025).
Kunjungan yang dimaksudkan untuk memastikan kelancaran distribusi elpiji malah diwarnai ketegangan dan protes dari warga yang kesulitan memperoleh gas subsidi.
Ketegangan semakin memuncak saat warga berebut mendapatkan tabung gas dalam antrean.
Di lokasi lain, saat memeriksa pasokan gas di Cibodas, Kota Tangerang, seorang pria berpakaian kemeja lengan panjang bermotif garis biru dan topi rimba hijau tua, meluapkan kemarahannya kepada Bahlil.
Wajahnya memerah, matanya tajam menatap menteri tersebut. Dengan kacamata yang digenggam di tangannya, ia berbicara dengan suara keras, mengungkapkan kekecewaan yang selama ini tersimpan.
Kritik terhadap kebijakan Bahlil juga muncul di media sosial. Unggahan Bahlil saat meninjau pasokan gas di Instagram pribadi mendapat beragam respons dari warganet.
Bahlil berdalih, kebijakan yang ia buat, dimaksudkan agar LPG bersubsidi tepat sasaran.
Kebijakan ini kemudian menimbulkan kontroversi dan memicu kemarahan rakyat, terutama setelah seorang nenek di meninggal setelah antre LPG 3 Kg di Pamulang, Tangerang Selatan.
Prabowo akhirnya memanggil Bahlil dan memerintahkan kebijakan tersebut dicabut.
Terungkap, kebijakan Bahlil bukan perintah Presiden Prabowo. Melainkan, sudah dirancang sejak tahun 2023, ketika Joko Widodo (Jokowi) masih berkuasa.
Menurut Bahlil, pertimbangan kebijakan ini berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan bahwa ada penyalahgunaan subdisi LPG Kg.
“Penyalahgunaan itu berasal dari pengecer,” akta Bahlil. (*)