MELIHAT INDONESIA, ROMA – Vatikan mengonfirmasi bahwa Paus Fransiskus, yang kini berusia 88 tahun, masih dalam kondisi kritis setelah mengalami gangguan pernapasan yang berkepanjangan. Sejak dirawat di Rumah Sakit Gemelli, Roma, kondisi kesehatannya terus menjadi perhatian utama, terutama setelah ia didiagnosis mengidap pneumonia dan infeksi paru-paru yang semakin memburuk.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa Paus juga harus menjalani transfusi darah akibat kadar trombosit yang rendah, yang diduga berkaitan dengan anemia. Meskipun tim dokter terus memantau dan memberikan perawatan intensif, laporan dari sejumlah media Italia dan Swiss mengindikasikan bahwa Vatikan mulai bersiap menghadapi kemungkinan wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu.
Mengenal Sede Vacante dan Proses Transisi Kepemimpinan
Dalam tradisi Gereja Katolik, ketika seorang paus meninggal dunia, Gereja memasuki masa transisi yang dikenal dengan istilah sede vacante, yang berarti “takhta kosong” dalam bahasa Latin. Periode ini menandai masa berkabung sekaligus persiapan pemilihan pemimpin baru.
Jika Paus Fransiskus wafat, tugas utama dalam mengelola transisi akan diemban oleh Kardinal Camerlengo. Ia bertugas mengonfirmasi kematian paus dan mengawasi jalannya proses administrasi hingga terpilihnya pemimpin baru. Pada masa lalu, verifikasi kematian paus dilakukan dengan mengetuk kepala paus menggunakan palu perak dan memanggil namanya tiga kali, namun tradisi ini telah ditinggalkan.
Tradisi yang Mengiringi Wafatnya Seorang Paus
Setelah wafatnya paus dikonfirmasi, beberapa langkah protokoler akan segera dijalankan, di antaranya:
- Cincin Nelayan, simbol kepemimpinan paus, akan dihancurkan untuk mencegah penyalahgunaan.
- Apartemen pribadi paus disegel, sebagai tanda berakhirnya masa jabatannya.
- Gereja Katolik memasuki masa berkabung selama sembilan hari (novendiales).
- Jenazah paus disemayamkan di Basilika Santo Petrus, di mana umat dapat memberikan penghormatan terakhir.
- Pemakaman paus diadakan di Basilika Santo Petrus, meskipun Paus Fransiskus disebut-sebut lebih memilih dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore sesuai dengan permintaannya.
Siapa yang Memimpin Gereja Selama Sede Vacante?
Dalam masa transisi ini, tugas administratif dipegang oleh Kolegi Kardinal. Meski memiliki peran penting, mereka tidak memiliki kewenangan untuk membuat keputusan besar terkait Gereja. Beberapa aturan utama selama sede vacante adalah:
- Kardinal Camerlengo mengelola keuangan serta urusan administratif.
- Mayor Penitentiary tetap menjalankan tugasnya terkait pengampunan dosa dan kebijakan spiritual.
- Seluruh kepala Kuria Roma menghentikan tugas mereka hingga terpilihnya paus baru.
- Kolegi Kardinal menggelar pertemuan untuk membahas persiapan konklaf dan pemilihan paus berikutnya.
Proses Pemilihan Paus Baru
Konklaf, atau pemilihan paus baru, harus dilaksanakan dalam waktu 15 hingga 20 hari setelah wafatnya paus. Dalam pemilihan ini, terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi:
- Hanya kardinal di bawah usia 80 tahun yang berhak memberikan suara.
- Jumlah pemilih maksimal adalah 120 kardinal.
- Selama konklaf, para kardinal akan dikarantina di dalam Kapel Sistina untuk mencegah campur tangan dari pihak luar.
- Pemungutan suara berlangsung hingga ada kandidat yang memperoleh dua pertiga suara.
- Hasil pemungutan suara diumumkan melalui pembakaran kertas suara, dengan asap hitam (fumata nera) menandakan belum ada keputusan dan asap putih (fumata bianca) sebagai tanda paus baru telah terpilih.
Habemus Papam: Momen Bersejarah Pengumuman Paus Baru
Setelah seorang kardinal terpilih sebagai paus dan menerima jabatan tersebut, ia akan memilih nama kepausan yang akan digunakannya. Tradisi ini diakhiri dengan pengumuman resmi dari balkon Basilika Santo Petrus, di mana Kardinal Protodiakon akan menyampaikan deklarasi legendaris: “Habemus Papam!” (Kami memiliki Paus!).
Sebagai langkah awal kepemimpinannya, paus baru akan memberikan berkat pertama kepada dunia, yang dikenal sebagai Urbi et Orbi (untuk kota dan dunia), menandai era baru dalam kepemimpinan Gereja Katolik.
Dengan kondisi Paus Fransiskus yang masih belum menunjukkan perkembangan signifikan, perhatian dunia tertuju pada Vatikan untuk melihat bagaimana peristiwa bersejarah ini akan berkembang dalam beberapa waktu ke depan. (**)