MELIHAT INDONESIA. JAKARTA – Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Titiek Puspa, penyanyi dan pencipta lagu legendaris, tutup usia pada umur 87 tahun. Sebelum wafat, almarhumah sempat menjalani perawatan intensif akibat stroke dan menjalani operasi darurat karena pecahnya pembuluh darah di otak.
Di balik kepergian sosok yang telah mewarnai musik Indonesia selama puluhan tahun ini, tersimpan pelajaran besar tentang bahaya yang tak terlihat—perdarahan otak atau stroke hemoragik. Kondisi ini terjadi saat pembuluh darah di otak pecah dan darah menyebar ke jaringan otak sekitarnya, menyebabkan kerusakan serius, bahkan kematian.
Gejalanya datang tanpa aba-aba. Sakit kepala hebat yang tiba-tiba, kelemahan pada satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, hingga kehilangan kesadaran bisa muncul seketika. Inilah jenis serangan yang memerlukan respons cepat dan penanganan darurat.
Faktor pemicunya bisa berasal dari tekanan darah tinggi yang tak terkendali, kelainan pembuluh darah, cedera kepala, hingga aneurisma yang selama ini tak terdeteksi. Seringkali, kondisi tersebut tumbuh diam-diam, tak menunjukkan gejala hingga semuanya terlambat.
Saat pembuluh darah di otak pecah, waktu menjadi segalanya. Tindakan medis seperti operasi harus segera dilakukan untuk menghentikan perdarahan dan menyelamatkan fungsi otak. Namun, tak semua bisa pulih sepenuhnya. Rehabilitasi jangka panjang dan pemulihan fungsi tubuh adalah perjalanan yang harus dilalui sebagian besar penyintas.
Itulah sebabnya pencegahan menjadi sangat penting. Menjaga tekanan darah tetap normal, menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, serta rutin memeriksakan kesehatan adalah langkah-langkah sederhana namun krusial untuk menghindari tragedi serupa.
Kepergian Titiek Puspa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kondisi serius seperti ini tidak pandang usia atau status. Bahaya bisa datang diam-diam, bahkan saat kita merasa sehat dan kuat.
Di tengah duka, kita bisa belajar satu hal penting: mendengarkan tubuh, menjaga kesehatan sejak dini, dan tidak menunda pemeriksaan rutin adalah bentuk cinta pada diri sendiri.
Sosok Titiek Puspa mungkin telah berpulang, tetapi suaranya tetap abadi, mengalun dalam kenangan bangsa. Semoga pelajaran dari kepergiannya dapat menjaga lebih banyak nyawa tetap selamat dan sehat di masa depan.
Karena kesehatan bukan sekadar anugerah—ia adalah tanggung jawab yang harus dijaga dengan kesadaran dan kasih sayang. (**)