Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menunjukkan komitmennya dalam menekan angka kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Tahun 2025, anggaran sebesar Rp17,2 miliar digelontorkan untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, pendidikan bukan sekadar kebutuhan, tapi kunci utama membebaskan masyarakat dari lingkaran kemiskinan.
Bantuan tersebut terbagi dalam dua skema besar. Pertama, beasiswa senilai Rp2 juta per anak diberikan kepada 1.100 anak tidak sekolah (ATS) yang ingin melanjutkan ke jenjang SMA, SMK, dan SLB. Total alokasi untuk program ini mencapai Rp2,2 miliar.
Kedua, bantuan personal pendidikan diberikan kepada 15.000 siswa miskin yang saat ini masih bersekolah di SMA, SMK, dan SLB. Dana yang dikucurkan mencapai Rp15 miliar. Kebijakan ini menegaskan arah pembangunan Jawa Tengah tak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga penguatan sumber daya manusia.
“Kalau pendidikan anak-anak terjamin, pengangguran terbuka bisa ditekan,” tegasnya.
Gubernur Luthfi juga menginstruksikan kepada seluruh bupati dan wali kota di Jawa Tengah untuk menjalankan program serupa. Ia meyakini, menjamin pendidikan anak-anak akan berdampak langsung pada penurunan angka pengangguran dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Pernyataan itu ia tegaskan saat menghadiri pelepasan 101 siswa lulusan SMA Unggulan CT Arsa Foundation Sukoharjo, Sabtu (28/6/2025). Para lulusan berasal dari keluarga prasejahtera, namun mampu mencatat prestasi membanggakan.
“Saya anak petani, dulu telur satu dibagi enam. Tapi saya bisa jadi gubernur, kalian pasti bisa lebih hebat,” ucap Luthfi.
Dari 101 lulusan, 85 diterima di perguruan tinggi negeri, 7 lolos ke kampus luar negeri, 7 ke universitas swasta unggulan, dan 2 lainnya di politeknik. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Jateng, DIY, dan Madiun Raya.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Esa, siswa asal Purworejo yang akan kuliah di IPB jurusan Proteksi Tanaman. Ia anak tunggal dari ibu tunggal dan sedang mengurus Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah agar bisa lanjut studi.
Kisah lain datang dari Daffa Aziz Firmansyah dari Cilacap. Meski berasal dari keluarga petani dan ayah yang sakit stroke, Daffa berhasil diterima di 14 universitas luar negeri, termasuk University of Sydney dan NTU Singapura.
Suwarti, ibunda Daffa, tak kuasa menahan haru. “Saya cuma petani, tapi anak saya bisa tembus luar negeri. Ini berkat pendidikan dan beasiswa,” ujarnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang sekolah, tetapi tentang harapan. Dan Jateng membuktikan bahwa dengan dukungan nyata, mimpi anak-anak dari keluarga sederhana pun bisa tercapai.