Kamis, Mei 7, 2026

Film Malaysia Sepi Penonton di RI, Dua Wanita Ngamuk Serukan Boikot Film Indonesia!

Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan dua wanita yang diduga berasal dari Malaysia menyerukan aksi boikot terhadap film-film Indonesia. Video berdurasi kurang dari satu menit ini pertama kali diunggah oleh akun Instagram @nyinyir_update pada Rabu, 16 Juli 2025 dan langsung memicu perdebatan panas di jagat maya.

Seruan boikot tersebut dipicu oleh kegagalan film Malaysia Blood Brothers: Bara Naga yang hanya mampu menarik sekitar 1.647 penonton selama masa tayangnya di Indonesia. Padahal, film ini sebelumnya digadang-gadang akan menjadi salah satu film box office terlaris di Malaysia.

Kekecewaan mendalam terlihat jelas dari ekspresi kedua wanita dalam video tersebut. Mereka menuding bahwa film-film Malaysia tidak mendapat ruang promosi maupun penayangan yang layak di Indonesia.

“Untuk kita masuk berperang, jadi perjuangan ini salah satu cara kita untuk kembali menggemilangkan karya-karya kita di Indonesia,” ujar salah satu wanita tersebut dengan suara lantang.

Wanita lainnya menyebut bahwa film-film produksi Malaysia seperti diblokir secara halus oleh pelaku industri perfilman Indonesia. Ia bahkan menyarankan agar Malaysia membalas dengan tidak menayangkan film Indonesia sebagai bentuk “strategi perjuangan”.

“Jadi strategi harus mantap,” sambungnya dengan nada emosional.

Sontak, seruan tersebut mengundang reaksi beragam dari warganet, khususnya dari Indonesia. Namun alih-alih terpancing emosi, warganet Tanah Air justru menanggapinya dengan nada santai dan sindiran cerdas. Banyak yang menyoroti bahwa meskipun film Malaysia tak laku di Indonesia, namun kartun Malaysia seperti Upin-Ipin dan Boboiboy masih sangat populer.

“Upin-Ipin sama Boboiboy masih jadi favorit anak aku,” tulis akun @enggarpradipta.

“Upin-Ipin dari TK sampai anak aku kelas 5 SD di rumah selalu diputar, setiap hari,” kata akun @windafitriyah567.

“Upin-Ipin aja sudah kaya minum obat, sehari tiga kali, dan itu selalu jadi favorit aku dan anakku,” timpal akun @aliefah.tyas.

Beberapa netizen lainnya juga menyebut bahwa penonton Indonesia saat ini lebih tertarik pada genre drama Korea dan film horor lokal.

“Indonesia sukanya genre Drakor sama horor, mungkin belum banyak yang minat saja,” pungkas seorang netizen.

Menanggapi kondisi ini, produser dan sutradara ternama asal Malaysia, Erma Fatima, ikut buka suara. Ia menyatakan perlunya kesiapan penuh dari para sineas Malaysia agar mampu bersaing di pasar Indonesia yang kompetitif.

“Apabila kita nak berperang, kita kena siapkan senjata yang komplet lah, yang cukup mantap, untuk kita masuk berperang,” ungkapnya.

Di tengah kegagalan Blood Brothers: Bara Naga, justru sejumlah film dan serial asal Indonesia seperti Jumbo, KKN di Desa Penari, Dilan 1990, Sewu Dino, hingga Gadis Kretek laris manis di Malaysia. Bahkan film animasi Jumbo tercatat sebagai animasi terlaris di Asia Tenggara.

Di sisi lain, sebagian netizen Malaysia justru membandingkan kualitas film dalam negeri mereka dengan kesuksesan film-film Indonesia maupun Thailand. Alih-alih melakukan introspeksi terhadap kualitas dan strategi pemasaran, sebagian pihak justru memilih menyerukan boikot.

Meski sempat memicu perdebatan sengit, video tersebut justru menyoroti betapa budaya pop Malaysia seperti kartun anak-anak masih tetap mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.