Wakil Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga berpotensi meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang matematika dan bahasa Inggris, terutama jika dikemas secara kreatif.
Hal tersebut disampaikan Stella saat mengunjungi stan Badan Gizi Nasional (BGN) pada hari kedua Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, Jumat. Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan edukasi mengenai program MBG.
“Setiap hari merupakan peluang berharga bagi anak-anak untuk belajar. Dengan program MBG, anak-anak tidak hanya mendapatkan gizi yang baik, tetapi juga belajar menghitung dan mengenal bahasa Inggris melalui jenis-jenis makanan,” ujar Stella dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Minggu (10/8/2025).
Lebih lanjut, Stella menegaskan, MBG dapat memotivasi anak, mengasah daya ingat, serta meningkatkan semangat belajar. “Berdasarkan bukti ilmiah, program ini dapat menjadi sarana motivasi dan pemicu untuk mengasah daya ingat serta pengetahuan anak-anak secara efektif,” tuturnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana sebelumnya mengungkapkan, tingkat kehadiran siswa di sekolah meningkat hingga 95 persen setelah adanya MBG. Sebelum program ini berjalan, tingkat kehadiran berada di kisaran 70-80 persen.
“Bahkan ada cerita dari Papua, seorang cucu yang awalnya setiap pagi mesti dibangunkan dulu oleh neneknya untuk pergi ke sekolah, sekarang malah si cucu itu yang membangunkan neneknya pagi-pagi karena semangat mau dapat MBG,” kata Dadan.
Namun, pernyataan Stella tersebut menuai kritik tajam dari ekonom senior Ferry Latuhihin. Ia menyebut komentar sang wakil menteri sebagai bentuk “menjilat” Presiden Prabowo.
“Blak-blak an banget ngejilatnya. Sampeyan katanya seorang profesor tapi ocehan sampeyan tidak mencerminkan sampeyan seorang (yang miliki) inteligensi,” sindir Ferry kepada awak media di Jakarta, Senin (11/8/2025).
Ferry mengakui, kekurangan gizi memang dapat menghambat inteligensi, namun cukup gizi bukan berarti akan otomatis meningkatkan kemampuan berpikir.
“Asupan itu meningkatkan inteligensi itu didikan dan lingkungan (habitus), and to a certain extent you may add bakat,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan yang membentuk cara berpikir logis, sistematis, analitis, dan dialektis.
“Banyak kan video-video yang beredar tentang anak-anak SMA yang badannya segar-segar, mukanya bugar-bugar, tidak ada tanda-tanda sedikitpun mereka kurang gizi. Begitu ditanya 6 kali 9 berapa, mikir dulu dan jawabannya salah,” tandas Ferry.