Rabu, April 29, 2026

Asosiasi Ojol Sebut Pengemudi yang Temui Gibran Bukan Anggota Mereka

Pertemuan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan sejumlah orang beratribut ojek online (ojol) di Istana Wakil Presiden, Minggu (31/8/2025), menuai kontroversi. Para pengemudi yang hadir mengaku senang bisa berdialog dengan Gibran dan menyebut pertemuan itu menjadi wadah menyampaikan keresahan akibat menurunnya pendapatan sejak unjuk rasa besar-besaran pecah.

“Alhamdulillah justru tadi pertemuannya lebih banyak kita yang meminta, memberi masukan kepada Pak Wapres dan alhamdulillah kita sefrekuensi untuk permasalahan yang saat ini sedang terjadi,” ujar salah satu pengemudi dalam video yang diunggah akun resmi @setwapres.ri.

Ia juga menyebut Gibran berjanji mengawal proses hukum kasus kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojol yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat aksi unjuk rasa Kamis (28/8) silam.

Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online (Garda Indonesia), Raden Igun Wicaksono, menegaskan para ojol yang hadir bukan bagian dari asosiasinya.

“Iya (enggak kenal). Enggak ada yang mengetahui dari kelompok mana mereka mewakili siapa. Karena yang pasti terlembaga, ya kami sebagai asosiasi kami terlembaga dan terdaftar pada negara maupun pemerintah Republik Indonesia. Dan kami saksi mata langsung (insiden yang menimpa Affan Kurniawan),” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/9).

Igun menilai pertemuan itu janggal karena tidak ada koordinasi sebelumnya dengan asosiasi resmi.

“Mereka tidak pernah ada di lokasi. Kelompok ini tidak pernah ada di lokasi atau orang-orang tersebut tidak pernah ada di lokasi, karena kami pada saat peristiwa itu terjadi kami memang yang ada di lokasi. Hingga dijalankannya otopsi jenazah di RSCM dan sampai selesai kami terus mengawalnya,” tegasnya.

Menurut Igun, langkah Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) ceroboh karena menghadirkan pihak yang tidak jelas.

“Nah ini harus diketahui oleh publik bahwa kecerobohan ini tidak bisa kita terima. Karena pastinya akan menimbulkan kesalahan informasi atau disinformasi,” ujarnya.

Ia juga menolak anggapan pertemuan dengan Gibran berhasil meredam kemarahan para pengemudi ojol.

“Tidak. Jadi kami menilai inilah kecerobohan dari Setwapres. Dengan mengundang pihak yang tidak diketahui siapa oleh ojek online,” katanya.

Igun menegaskan narasi damai yang muncul seolah pengalihan dari tragedi sebenarnya.

“(Muncul anggapan) bahwa ini hanyalah rekayasa. Seakan-akan sudah ada damai. Ini belum ada damai. Karena apa? Belum ada hasil dari pemeriksaan para pelaku maupun olah TKP,” ungkapnya.

Kontroversi makin panas setelah warganet menemukan bahwa salah satu ojol yang hadir bersama Gibran adalah sosok yang sama saat bertemu Presiden Prabowo Subianto pada Maret 2025 lalu.

Dalam unggahan netizen, sosok berjaket hijau dan berkacamata terlihat hadir dalam dua pertemuan berbeda: bersama Prabowo di Istana Presiden dan bersama Gibran di Istana Wapres.

“Impostor-nya dia lagi dia lagi. Nggak ada yang laen? Antara pelit atau dikorup pendanaannya,” tulis akun @inoowdj.

Komentar serupa ramai di media sosial:

“Kaya gitu kan pakai lembaga, besok lagi kalau ada acara lagi. Ya dia lagi yang dipanggil, katanya mewakili,” tulis akun lain.

“Yang kacamata siap,” celetuk akun @wulan.

“Proyek gede, pimpronya ya muter muter di situ aja,” tambah akun @karman****9.

Sebelumnya, Presiden Prabowo memang pernah mengundang perwakilan ojol bersama CEO Gojek Patrick Walujo dan CEO Grab Anthony Tan saat membahas THR mitra ojol pada 10 Maret 2025.

Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), Lily Pujiati, juga menilai bahasa yang digunakan salah satu pengemudi ojol dalam video Setwapres janggal.

“Bahasa aneh menurut kami,” ujarnya kepada Tempo, Selasa (2/9).

Publik menyoroti penggunaan kata-kata seperti “taruna” dan “eskalasi” yang dinilai tidak umum di kalangan pengemudi ojol. Bahkan, salah satu pengemudi yang tampak memakai sepatu bermerek Air Jordan juga jadi sorotan.

“Apa itu ada taruna, ada bahasa-bahasa bukan bahasa ojol, kan? Paling ya bahasa kami kan nyender, gacor, anyep. Kalau bahasa di video itu terlalu tinggi,” kata Lily.

Ia menjelaskan istilah khas ojol biasanya sederhana, seperti “anyep” (sepi), “gacor” (ramai), “nyender” (nunggu orderan), hingga “ngeblas” (ambil order jarak jauh).

Menurut Lily, istilah “taruna” mungkin digunakan karena pengemudi itu binaan aplikator.

“Karena memang binaan-binaan dulu yang direkrut satgas-satgas aplikator itu kan dari tentara atau polisi. Jadi, mereka pakai istilah taruna itu supaya yang dia bawahi ini tunduk,” jelasnya.

Dari seluruh ojol yang bertemu Gibran, Lily memastikan tidak ada yang merupakan anggota SPAI.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.