Mahasiswa baru (maba) Universitas Sriwijaya (Unsri) heboh setelah muncul video viral yang memperlihatkan mereka dipaksa berciuman sesama jenis oleh kakak tingkat. Aksi itu terjadi dalam kegiatan mahasiswa di Fakultas Pertanian, Prodi Teknologi Pertanian, dan menuai kecaman luas dari publik.
Dalam video berdurasi 24–25 detik yang tersebar di media sosial, tampak sejumlah maba duduk berhadapan secara berpasangan, baik laki-laki maupun perempuan, lalu dipaksa untuk berciuman. Para senior terdengar berteriak mendorong aksi tersebut.
“Ayo cium, giliran cium pacar mau tapi kalau cium teman sendiri saja malu,” kata salah satu senior dalam rekaman.
“Ayo cium, cium,” teriak kakak tingkat lainnya sambil tertawa riuh.
Tak hanya disuruh berciuman, maba juga ditantang untuk berkelahi. Fenomena ini langsung memicu kritik netizen yang menilai aksi perpeloncoan adalah bentuk kekerasan sekaligus pelecehan yang tidak pantas terjadi di dunia pendidikan.
“Pantas banyak kejadian asusila di mana-mana, salah satunya karena cara pengajaran yang dianggap normal seperti ini,” tulis akun @aldin.irma.
Pihak Unsri membenarkan insiden itu terjadi di Prodi Teknologi Pertanian. Kepala Kantor Humas dan Protokol Unsri, Nurly Meilinda, menegaskan kampus sudah membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus tersebut.
“Itu dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Prodi Teknologi Pertanian. Mereka sudah dipanggil dan sudah diberikan teguran. Dan langkah yang tercepat kami lakukan adalah membekukan HIMATETA selama setahun,” ujarnya, Selasa (23/9/2025).
Menurut Nurly, kegiatan itu awalnya berupa praklining atau kerja bakti bersih-bersih yang diizinkan kampus. Namun setelah selesai, muncul ide dari beberapa mahasiswa untuk melakukan aksi ciuman yang kemudian direkam dan diposting hingga viral.
“Usai viral, kakak tingkat sudah dipanggil terkait kejadian tersebut dan dari pengakuan mereka bahwa ciuman tersebut tidak dipaksa,” jelasnya.
Meski begitu, pihak universitas menegaskan segala bentuk kekerasan dan pelecehan tidak bisa ditoleransi. HIMATETA selaku himpunan mahasiswa yang menaungi kegiatan itu sudah dibekukan, sementara tim investigasi terus menelusuri fakta.
“Jika memang ada pelanggaran maka akan ada sanksi mulai dari teguran, pembinaan hingga jika berat bisa diskorsing, namun masih menunggu hasil investigasi,” tambah Nurly.
Rektorat Unsri juga menegaskan peristiwa tersebut bukan bagian resmi dari Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
“Kampus tidak akan tinggal diam terhadap tindakan yang mencoreng nama baik Unsri. Proses investigasi sedang berjalan,” tegas pihak Unsri.