Kamis, Mei 28, 2026

Aceh Resmi Menyurati Dua Lembaga PBB untuk Pemulihan Pascabencana

Pemerintah Aceh resmi menyurati dua lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni United Nations Development Programme (UNDP) dan UNICEF, untuk meminta keterlibatan dalam pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Tanah Rencong. Langkah ini diambil karena kedua lembaga dinilai berpengalaman, termasuk saat penanganan tsunami Aceh 2004.

“Secara khusus Pemerintah Aceh secara resmi juga telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional atas pertimbangan pengalaman bencana tsunami 2004, seperti UNDP dan UNICEF,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Muhammad MTA, Minggu (14/12).

Ia menegaskan, “Benar (sudah menyurati). Mempertimbangkan mereka lembaga resmi PBB yang ada di Indonesia, maka meminta keterlibatan mereka dalam pemulihan kami rasa sangat dibutuhkan.”

Muhammad MTA menjelaskan, UNDP dan UNICEF merupakan lembaga resmi PBB yang masih aktif menjalankan program di Indonesia, bahkan UNICEF masih memiliki program di Aceh hingga awal 2026. Pemerintah Aceh berharap keterlibatan kedua lembaga tersebut dapat memperkuat pemulihan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

“Oleh sebab itu, lembaga-lembaga internasional yang saat ini masih eksis di Indonesia, kita ambil inisiatif sebagai pemerintah daerah untuk dapat terus berada di Aceh, terutama atas bencana saat ini,” ujarnya.

Banjir dan longsor di Aceh berdampak luas di 18 kabupaten/kota, merusak infrastruktur dan menimbulkan korban jiwa besar. Data posko tanggap darurat Aceh per Minggu (14/12) pukul 13.36 WIB mencatat 419 orang meninggal, 32 orang hilang, dan 474.691 jiwa mengungsi. Kerusakan meliputi 258 kantor, 287 tempat ibadah, 305 sekolah, 431 pesantren, 206 rumah sakit dan puskesmas, 461 titik jalan, serta 332 jembatan.

Dalam upaya pemulihan, hingga kini tercatat 77 lembaga dan 1.960 relawan telah masuk ke Aceh, terdiri dari NGO lokal, nasional, dan internasional. Sejumlah lembaga yang tergabung dalam desk relawan BNPB antara lain Save The Children, Islamic Relief, Baznas, EMT AHS UGM, Orari, Yayasan Geutanyoe, dan lainnya.

“Besar kemungkinan keterlibatan lembaga dan relawan akan terus bertambah,” kata Muhammad MTA.

Sementara itu, BNPB melaporkan dampak bencana hidrometeorologi di Sumatera terus bertambah. Dalam jumpa pers Minggu (14/12/2025), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebutkan, “Per hari ini hasil pencarian dan pertolongan bertambah 10 jasad yang ditemukan.” Ia merinci, “Di Aceh 9 dan satu di Kabupaten Agam sehingga total yang kemarin 1.006 jiwa, hari ini bertambah menjadi 1.016 jiwa.”

Total korban meninggal di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini mencapai 1.016 orang, dengan 212 orang masih dinyatakan hilang dan 624.670 jiwa mengungsi. Aceh menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak, disusul Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sementara operasi pencarian korban hilang masih terus berlangsung di sejumlah titik terdampak.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.