Tim Densus 88 Antiteror mengungkap fakta baru terkait kasus siswa SMP yang melempar bom molotov di Kalimantan Barat. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku diketahui merupakan korban perundungan (bully) dan memiliki dorongan ingin membalas dendam, yang kemudian diperkuat dengan paparan ideologi kekerasan.
Densus menyebut bahwa tindakan pelaku tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh kondisi psikologis akibat perundungan yang dialami di lingkungan sekitarnya. Hal tersebut menjadi salah satu faktor pendorong utama hingga pelaku nekat melakukan aksi pelemparan molotov.
Selain motif balas dendam, penyidik menemukan bahwa pelaku juga terpapar ideologi kekerasan. Temuan ini didapat dari hasil pendalaman terhadap aktivitas dan barang-barang pribadi milik pelaku.
Densus menegaskan bahwa meski pelaku masih di bawah umur, pola pikir dan tindakannya menunjukkan kecenderungan mengarah pada kekerasan ekstrem.
Dari penelusuran lebih lanjut, pelaku diketahui gemar bermain gim tembak-tembakan. Meski belum disimpulkan sebagai penyebab utama, kebiasaan tersebut menjadi salah satu aspek yang ikut diperiksa penyidik untuk memahami pola pikir dan ketertarikan pelaku terhadap kekerasan.
Penyidik menegaskan bahwa gim bukan satu-satunya faktor, melainkan bagian dari keseluruhan latar belakang yang sedang dianalisis.
Fakta lain yang terungkap, tas sekolah pelaku dipenuhi catatan nama-nama pelaku penembakan di luar negeri. Temuan ini semakin menguatkan dugaan bahwa pelaku mengidolakan aksi kekerasan dan menjadikannya sebagai referensi.
Catatan tersebut kini diamankan sebagai barang bukti dan menjadi bagian penting dalam proses pendalaman kasus oleh aparat.
Densus menegaskan bahwa penanganan kasus ini dilakukan dengan pendekatan khusus karena pelaku masih berstatus anak di bawah umur. Proses hukum akan mempertimbangkan aspek perlindungan anak, pendampingan psikologis, serta upaya deradikalisasi.
Kasus ini menjadi sorotan luas karena memperlihatkan irisan serius antara perundungan, kesehatan mental, dan paparan ideologi kekerasan di kalangan pelajar.