Pengiriman sampah dari Jakarta ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, akan mulai dibatasi setelah terjadi longsor gunungan sampah beberapa waktu lalu. Kebijakan ini diambil karena kapasitas tempat pembuangan tersebut dinilai sudah sangat terbatas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan kondisi daya tampung di Bantargebang sudah mendekati batas maksimal.
“Karena Bantargebang memang harus mulai ada pembatasan, karena daya tampungnya sudah sangat terbatas,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (9/3).
Pemprov DKI saat ini juga menyiapkan zona penampungan baru yang bersifat sementara sambil menunggu pembangunan zona 4A selesai.
“Untuk sementara ini, sambil menunggu zona 4A diselesaikan, maka zona 3 dan 2 zona baru sedang kita persiapkan untuk bersifat temporari, sementara. Jadi tidak permanen,” sambungnya.
Pramono menyebut volume sampah Jakarta saat ini berkisar 7.400 hingga 8.000 ton per hari, terutama meningkat pada akhir pekan.
“Sekarang ini harian, apa, sampah kita antara 7.400 sampai dengan 8.000. 8.000 itu kalau biasanya pada akhir pekan. Pasti ada dampaknya. Dan untuk itu kami akan melakukan proses pemilahan di ujung,” ujarnya.
Pemprov DKI juga akan memperketat proses pemilahan sampah sebelum dikirim ke Bantargebang.
“Saya akan memulai untuk pemilahan sampah itu sudah dilakukan, tidak semuanya harus dikirimkan ke Bantargebang atau ke tempat-tempat penampungan sampah. Karena sekarang ini hampir sebagian besar tidak dilakukan pemisahan kemudian dikirim ke Bantargebang,” ujar Pramono.
“Pemerintah DKI Jakarta sesuai dengan arahan Kementerian Lingkungan Hidup kami akan melakukan pemisahan,” sambungnya.
Pemprov DKI Jakarta memastikan korban dalam insiden longsor di TPST Bantargebang akan mendapatkan santunan dan biaya pengobatan.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan korban yang meninggal dari PJLP Dinas Lingkungan Hidup akan mendapatkan santunan BPJS Ketenagakerjaan. Sementara biaya pengobatan bagi yang luka-luka sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah DKI Jakarta,” ujar Pramono.
Ia mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia mencapai empat orang.
“Empat orang yang meninggal, dua orang sopir, satu orang memang jualan, ibu-ibu yang berusia 60 tahun. Kemudian satu orang adalah pemulung, perempuan juga. Jadi dua laki, dua perempuan,” ujarnya.
Menurut Pramono, longsor terjadi di Zona 4A dan diduga dipicu hujan ekstrem pada Minggu (8/3).
“Peristiwa longsor tersebut di zona 4A pada pukul 14.30 diduga dipicu oleh hujan ekstrem pada hari Minggu yang menyebabkan jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter tertutup sampah,” ujar Pramono.
Pemerintah pun langsung mengaktifkan operasi tanggap darurat.
“Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta langsung mengaktifkan operasi tanggap darurat mulai kemarin untuk memastikan keselamatan petugas, melakukan penanganan korban, serta menstabilkan area agar layanan pengelolaan sampah dapat segera dipulihkan,” kata Pramono.
Untuk sementara, operasional pengelolaan sampah dialihkan ke Zona 3 sambil menyiapkan dua titik penampungan baru.
“Pengiriman sampah ke TPST Bantargebang diminimalkan, operasionalnya dialihkan ke zona 3, serta disiapkan dua titik baru sambil dilakukan perapian,” ujar Pramono.