Wilayah Merauke, Papua Selatan, kembali menjadi sorotan terkait masifnya pembukaan lahan untuk proyek pangan dan energi berskala besar. Sejumlah media internasional dan lembaga lingkungan bahkan menyebut proyek tersebut sebagai salah satu proyek deforestasi terbesar di dunia.
Laporan berbagai organisasi lingkungan menyoroti meningkatnya aktivitas pembukaan hutan di Papua Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Analisis dari Mighty Earth dan The TreeMap menunjukkan laju pembukaan lahan terus terjadi di sejumlah kawasan Merauke dan sekitarnya.
Proyek pengembangan kawasan pangan dan energi di Merauke sendiri telah dirancang pemerintah sejak 2010 melalui program Merauke Integrated Food and Energy Estate atau MIFEE. Dalam program tersebut, sekitar 2,5 juta hektar lahan dialokasikan untuk pengembangan industri pangan, perkebunan, hingga energi.
Program itu sejak awal menuai pro dan kontra. Pemerintah menyebut pengembangan kawasan pangan diperlukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Papua Selatan.
Namun di sisi lain, sejumlah kelompok masyarakat sipil dan pemerhati lingkungan menilai pembukaan lahan dalam skala besar berpotensi memicu kerusakan hutan, hilangnya habitat satwa, hingga mengancam ruang hidup masyarakat adat.
Kritik juga muncul terkait dampak sosial yang dinilai belum sepenuhnya diperhatikan. Sejumlah pihak menilai pembangunan tidak hanya soal pembukaan lahan dan investasi, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlangsungan hidup warga lokal serta kelestarian ekosistem yang ada di Papua Selatan.
Hingga kini, isu deforestasi di Merauke masih menjadi perhatian berbagai organisasi lingkungan internasional, terutama karena kawasan Papua dikenal sebagai salah satu benteng hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di Indonesia.
Disorot Lingkungan Global! Proyek di Merauke Disebut Jadi Salah Satu Deforestasi Terbesar di Dunia
Wilayah Merauke, Papua Selatan, kembali menjadi sorotan terkait masifnya pembukaan lahan untuk proyek pangan dan energi berskala besar. Sejumlah media internasional dan lembaga lingkungan bahkan menyebut proyek tersebut sebagai salah satu proyek deforestasi terbesar di dunia.
Laporan berbagai organisasi lingkungan menyoroti meningkatnya aktivitas pembukaan hutan di Papua Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Analisis dari Mighty Earth dan The TreeMap menunjukkan laju pembukaan lahan terus terjadi di sejumlah kawasan Merauke dan sekitarnya.
Proyek pengembangan kawasan pangan dan energi di Merauke sendiri telah dirancang pemerintah sejak 2010 melalui program Merauke Integrated Food and Energy Estate atau MIFEE. Dalam program tersebut, sekitar 2,5 juta hektar lahan dialokasikan untuk pengembangan industri pangan, perkebunan, hingga energi.
Program itu sejak awal menuai pro dan kontra. Pemerintah menyebut pengembangan kawasan pangan diperlukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Papua Selatan.
Namun di sisi lain, sejumlah kelompok masyarakat sipil dan pemerhati lingkungan menilai pembukaan lahan dalam skala besar berpotensi memicu kerusakan hutan, hilangnya habitat satwa, hingga mengancam ruang hidup masyarakat adat.
Kritik juga muncul terkait dampak sosial yang dinilai belum sepenuhnya diperhatikan. Sejumlah pihak menilai pembangunan tidak hanya soal pembukaan lahan dan investasi, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlangsungan hidup warga lokal serta kelestarian ekosistem yang ada di Papua Selatan.
Hingga kini, isu deforestasi di Merauke masih menjadi perhatian berbagai organisasi lingkungan internasional, terutama karena kawasan Papua dikenal sebagai salah satu benteng hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di Indonesia.