Sabtu, April 18, 2026

Bahaya Banget Makan Daging Kucing!! Ini Penjelasan Akademisi

MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Nur (63) seorang bapak kos di wilayah Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang viral karena makan kucing hingga memicu reaksi netizen dan warga sekitar.

Hal ini viral setelah diunggah akun Tiktok @tigasatu pada Minggu (5/8/2024).

Mulanya, aksi ini ketahuan setelah pengunggah video kehilangan kucing oranye yang sering ia beri makan lalu menanyakannya kepada bapak kos.

Dalam pengakuannya, Nur itu memakan daging kucing agar membuat dirinya kenyang.

Hal itu karena ia tak bisa makan nasi dalam jumlah banyak akibat penyakit diabetes yang ia derita

Mengutip nair.ac.id, kucing merupakan salah satu hewan domestikasi yang dipelihara manusia. Sebagai hewan kesayangan, kucing tak termasuk kedalam hewan ternak konsumsi. Sehingga bentuk konsumsi kucing merupakan tindakan keji yang berpotensi menjadi vektor zoonosis di tengah masyarakat.

Kucing Tak Termasuk Hewan Ternak Pangan

Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner SIKIA, Prima Ayu Wibawati drh M Si mengatakan konsumsi daging kucing sangatlah tidak etis. Jika melihat UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diubah dengan UU 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009. Ternak memanglah hewan peliharaan, namun diperuntukkan untuk pangan manusia.

“Dari UU itu, daging kucing bukan produk hewan yang masuk kriteria dikonsumsi manusia. Jadi ini merupakan tindakan penyalahgunaan. Apapun alasan (konsumsi, red) hanyalah dalih untuk menghalalkan dan membenarkan pendapat pengkonsumsi tersebut,” jelasnya.

Tanpa Jaminan Keamanan Pangan
Konsumsi dapat memberikan dampak langsung bagi manusia. Terdapat kebijakan pemerintah terkait pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH). Hal ini berkaitan dengan perlindungan konsumen, yaitu untuk memastikan konsumen mendapatkan produk yang aman, sehat, dan utuh, serta halal (untuk hewan yang halal). Sehingga dapat memastikan hewan tersebut memang layak potong. Prima menyebutkan kucing memang tidak ada standarisasi pemotongan hingga pemakaiannya. Sehingga memang tidak ada jaminan keamanan untuk dikonsumsi manusia.

“Sudah jelas jaminan keamanannya tidak ada. Mulai dari penangkapan, transportasi ternak hingga bagaimana cara penyembelihannya, kita gak tau. Mungkin saja kucing membawa bibit penyakit,” sebutnya.

Potensi Bahaya Meat Borne Disease
Potensi zoonosis terpampang nyata dari kegiatan konsumsi daging kucing, karena tidak memiliki standarisasi jaminan keamanan pangan. Berbagai penyakit meat borne disease seperti Tuberculosis, Brucellosis, Salmonellosis, Botulism, Staphylococcal Meat Intoxication, Taeniasis, Trichinosis hingga Clostridiosis berpotensi menginfeksi pengkonsumsi daging kucing. Bahkan infeksi rabies pun dapat menyerang.

“Dikhawatirkan, berbagai penyakit dari meat borne disease berpotensi menginfeksi orang yang makan. Selain itu kucing merupakan reservoir rabies, jadi apabila memang memiliki virus rabies. Maka juga potensi zoonosisnya juga sangat tinggi,” tuturnya.

Bentuk Pelanggaran Animal Welfare
Selain karena kucing peruntukannya sebagai hewan peliharaan non konsumsi. Asal usul kucing juga menjadi pertanyaan vital yang harus diperhatikan. Karena

“Bisa dibayangkan, sebenarnya kucingnya didapat darimana, bisa juga kucing peliharaan yang dicuri. Tindakan pemotongan juga pasti tidak berperikehewanan, karena memang bukan produk pangan yang ada standar pemotongannya,” katanya.

Menerka Psikologis Pengkonsumsi
Prima menyebutkan banyak organisasi yang mengecam tindakan konsumsi daging kucing. Tapi kecaman itu juga harus dibarengi dengan upaya edukasi masyarakat dengan menyesuaikan psikologis target. Perlu ada pendekatan agama, kesehatan masyarakat veteriner, potensi penyakit hingga legislasi untuk dapat menekan angka konsumsi daging kucing di tengah masyarakat.

“Jika muslim dapat ditekankan keharamannya, apabila non muslim bisa disosialisasikan mengenai penyakit yang bisa ditularkan dan sisi kesayangan terhadap hewan,” ungkapnya.

Selain itu untuk daerah tertentu yang memiliki tradisi konsumsi daging kucing, memerlukan perhatian psikologis bagi anak usia dini. Sehingga kita dapat memutus rantai konsumsi secara perlahan dari jenjang usia muda.

“Cara edukasi bagi daerah yang ada adat tradisi lebih susah lagi, tapi kita bisa menggunakan cara yang memberikan dampak psikologis bagi anak terkait pemotongan kucingnya. Pendekatannya kucing kan harus disayang, jadi gak boleh dibunuh dan dimakan,” katanya.(**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.