Jumat, Mei 29, 2026

Sorotan Intimidasi Film Pesta Babi, Mama Yasinta Jadi Simbol Kebebasan Berekspresi di Papua

Film dokumenter Pesta Babi memicu polemik setelah sejumlah pemutaran bersama di berbagai daerah dibubarkan dan muncul dugaan intimidasi terhadap salah satu tokohnya, Mama Yasinta Moiwend. Perempuan adat Papua itu sebelumnya dikenal aktif menyuarakan penolakan terhadap kerusakan hutan dan tanah adat di Papua.

Perhatian publik mengarah pada video wawancara Mama Yasinta yang viral di media sosial setelah peluncuran film pada Mei 2026. 

Dalam video tersebut, sejumlah pihak menilai Mama Yasinta terlihat berada di bawah tekanan saat memberikan pernyataan. Dugaan intimidasi semakin menguat setelah beredar simbol uang yang digenggamnya dalam proses wawancara.

Menurut catatan Ekspedisi Indonesia Baru, sedikitnya 30 titik nobar film Pesta Babi di berbagai daerah dibubarkan oleh sejumlah pihak, mulai dari ormas, aparat keamanan, hingga pihak kampus dan pemerintah desa. Kondisi ini memunculkan kritik terkait kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi di Papua.

Film Pesta Babi sendiri disebut merekam kehidupan masyarakat Papua dari sisi budaya dan sosial, termasuk tradisi pesta babi yang dianggap memiliki makna adat dan solidaritas masyarakat. 

Dokumenter tersebut juga menyoroti keresahan masyarakat adat terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan ruang hidup akibat eksploitasi sumber daya alam.

Sejumlah pengamat menilai kasus Mama Yasinta bukan sekadar persoalan individu, melainkan gambaran tekanan yang kerap dialami masyarakat adat Papua saat menyuarakan kritik sosial. Perempuan Papua disebut berada di posisi paling rentan karena menghadapi tekanan ekonomi, sosial, hingga politik secara bersamaan.

Narasi yang berkembang juga menyoroti dugaan adanya relasi kuasa yang timpang terhadap masyarakat adat. Tekanan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi dapat muncul melalui intimidasi psikologis, pengawasan, hingga ketergantungan ekonomi yang membuat masyarakat takut berbicara terbuka.

Kasus ini kembali memunculkan perdebatan soal kebebasan berekspresi di Papua. Banyak pihak menilai karya seni dan dokumenter seharusnya menjadi ruang dialog publik, bukan dipandang sebagai ancaman negara.

Di tengah kontroversi tersebut, Mama Yasinta dinilai tetap menjadi simbol keberanian perempuan Papua dalam menyuarakan keresahan masyarakat adat mengenai tanah, hutan, dan ruang hidup mereka.

Sorotan Intimidasi Film Pesta Babi, Mama Yasinta Jadi Simbol Kebebasan Berekspresi di Papua

Film dokumenter Pesta Babi memicu polemik setelah sejumlah pemutaran bersama di berbagai daerah dibubarkan dan muncul dugaan intimidasi terhadap salah satu tokohnya, Mama Yasinta Moiwend. Perempuan adat Papua itu sebelumnya dikenal aktif menyuarakan penolakan terhadap kerusakan hutan dan tanah adat di Papua.

Perhatian publik mengarah pada video wawancara Mama Yasinta yang viral di media sosial setelah peluncuran film pada Mei 2026. 

Dalam video tersebut, sejumlah pihak menilai Mama Yasinta terlihat berada di bawah tekanan saat memberikan pernyataan. Dugaan intimidasi semakin menguat setelah beredar simbol uang yang digenggamnya dalam proses wawancara.

Menurut catatan Ekspedisi Indonesia Baru, sedikitnya 30 titik nobar film Pesta Babi di berbagai daerah dibubarkan oleh sejumlah pihak, mulai dari ormas, aparat keamanan, hingga pihak kampus dan pemerintah desa. Kondisi ini memunculkan kritik terkait kebebasan berekspresi dan ruang demokrasi di Papua.

Film Pesta Babi sendiri disebut merekam kehidupan masyarakat Papua dari sisi budaya dan sosial, termasuk tradisi pesta babi yang dianggap memiliki makna adat dan solidaritas masyarakat. 

Dokumenter tersebut juga menyoroti keresahan masyarakat adat terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan ruang hidup akibat eksploitasi sumber daya alam.

Sejumlah pengamat menilai kasus Mama Yasinta bukan sekadar persoalan individu, melainkan gambaran tekanan yang kerap dialami masyarakat adat Papua saat menyuarakan kritik sosial. Perempuan Papua disebut berada di posisi paling rentan karena menghadapi tekanan ekonomi, sosial, hingga politik secara bersamaan.

Narasi yang berkembang juga menyoroti dugaan adanya relasi kuasa yang timpang terhadap masyarakat adat. Tekanan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi dapat muncul melalui intimidasi psikologis, pengawasan, hingga ketergantungan ekonomi yang membuat masyarakat takut berbicara terbuka.

Kasus ini kembali memunculkan perdebatan soal kebebasan berekspresi di Papua. Banyak pihak menilai karya seni dan dokumenter seharusnya menjadi ruang dialog publik, bukan dipandang sebagai ancaman negara.

Di tengah kontroversi tersebut, Mama Yasinta dinilai tetap menjadi simbol keberanian perempuan Papua dalam menyuarakan keresahan masyarakat adat mengenai tanah, hutan, dan ruang hidup mereka.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.