Sabtu, Juni 27, 2026

Begini Nasib Pekerja Seks Komersial di Prancis saat Olimpiade Paris 2024

MELIHAT INDONESIA, PRANCIS – Demi suksesnya Olimpiade Paris 2024, pemerintah Prancis meningkatkan operasi penertiban terhadap pekerja seks komersial (PSK) untuk mencegah praktik prostitusi selama acara tersebut berlangsung.

Menurut laporan AFP, salah satu PSK asal China, Hua, mengungkapkan bahwa ia kesulitan menjalankan pekerjaannya karena razia polisi yang semakin intensif. “Saya merasa sangat tertekan dan terus-menerus ketakutan. Setiap hari ada pemeriksaan polisi,” ungkap perempuan berusia 55 tahun tersebut, yang menggunakan nama samaran.

Di Prancis, terdapat sekitar 40.000 orang, kebanyakan perempuan, yang bekerja atau dieksploitasi dalam industri seks. Meskipun menjual jasa seks diperbolehkan di Prancis, eksploitasi terhadap pekerja seks, termasuk oleh muncikari atau klien, adalah tindakan ilegal.

Kasus menjadi lebih kompleks ketika PSK yang terlibat adalah pekerja ilegal tanpa dokumen resmi. Hua, yang menderita kanker payudara, menyatakan kekhawatirannya akan dideportasi jika tertangkap.

“Saya sangat takut ditangkap, karena jika itu terjadi, saya akan dikirim kembali ke China tanpa perawatan medis,” tuturnya.

Mylene Juste, seorang pekerja seks lainnya di Paris, menyatakan kekecewaannya terhadap kebijakan keamanan baru yang diterapkan pemerintah, yang membatasi pergerakan di sekitar kota. “Pelanggan tetap kami tidak akan bisa datang jika semua pembatasan ini diberlakukan,” kata perempuan 50 tahun tersebut.

Selama Olimpiade Paris, pemerintah berusaha keras untuk menghilangkan praktik prostitusi, termasuk dengan menyediakan kasur khusus “anti-seks” di wisma atlet, yang sempat viral karena terbuat dari kardus yang kokoh. Meski demikian, perdagangan seks secara online tetap menjadi tantangan besar.

Pihak berwenang Prancis memprediksi bahwa muncikari yang menawarkan jasa perempuan dari Brazil, Kolombia, dan Paraguay akan terus beroperasi selama Olimpiade. Terlebih lagi, mereka khawatir akan meningkatnya prostitusi kelas atas serta pelecehan terhadap anak di bawah umur.

Menurut kelompok hak asasi manusia Acting Against the Prostitution of Children, sekitar 20 ribu anak di bawah umur dieksploitasi secara seksual di Prancis setiap tahunnya. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.