MELIHAT INDONESIA, YOGYAKARTA – Di lereng sejuk Kaliurang, Kabupaten Sleman, tersimpan sepotong sejarah kuliner Yogyakarta yang menggugah selera dan penuh cerita. Jadah tempe, paduan unik antara jadah yang lembut dan gurih dengan tempe bacem yang manis dan bertekstur kasar, menjadi sajian khas yang tidak hanya lezat tetapi juga sarat makna budaya.
Filosofi di Balik Rasa
Keunikan jadah tempe terletak pada kontras rasa dan teksturnya. Jadah yang dibuat dari beras ketan memiliki rasa gurih alami yang berpadu sempurna dengan tempe bacem yang manis karena gula merah. Jika dinikmati secara terpisah, mungkin rasanya tidak terlalu istimewa. Namun, begitu keduanya disantap bersama, sensasi nikmat yang sulit dilupakan pun tercipta, terutama jika ditambahkan cabai rawit.
Jadah sendiri memiliki filosofi mendalam di budaya Jawa. Sebagai makanan yang kerap hadir dalam acara tradisional seperti pernikahan, lengketnya jadah menjadi simbol harapan agar hubungan tetap erat dan harmonis, baik antar pasangan maupun antar keluarga besar.
Jejak Sejarah di Tiap Gigitan
Sejarah tempe bacem, komponen penting dalam jadah tempe, tak lepas dari pengaruh era tanam paksa (cultuurstelsel) di Jawa. Pada masa itu, tanaman tebu menjadi komoditas utama, menghasilkan gula merah yang melimpah. Gula ini kemudian dipadukan dengan bumbu seperti ketumbar untuk mengolah tempe, tahu, hingga daging dengan cara dibacem. Selain memberikan rasa manis yang khas, metode ini juga membantu makanan bertahan lebih lama.
Legenda Mbah Carik dan Persembahan untuk Raja
Cerita jadah tempe tidak akan lengkap tanpa menyebut Jadah Tempe Mbah Carik, merek legendaris dari Kaliurang. Kisahnya dimulai pada 1927, ketika Sastrodinomo, seorang carik (sekretaris desa), diminta untuk membuat persembahan unik bagi Keraton Yogyakarta. Bersama istrinya, ia menciptakan kombinasi jadah dan tempe bacem yang ternyata sangat disukai pihak istana.
Popularitas jadah tempe terus menanjak, hingga pada 1965, Sultan Hamengkubuwana IX mampir ke warung kecil milik Mbah Sastro—begitu Sastrodinomo biasa disapa. Sang Sultan sangat menyukai rasa jadah tempe ini, bahkan sering mengutus pegawai keraton untuk membelinya. Atas saran Kanjeng Ratu Ayu Hastungkara, istri Sultan HB IX, warung itu diberi nama Jadah Tempe Mbah Carik sebagai penghormatan pada masa jabatan Sastrodinomo.
Keistimewaan yang Bertahan Turun-Temurun
Kini, Jadah Tempe Mbah Carik telah memasuki generasi keempat. Warisan kuliner ini terus dikelola oleh keturunan Sastrodinomo, menjaga cita rasa yang sama sejak awal. Di kawasan Telaga Putri Kaliurang, warung ini masih menjadi tujuan wisata kuliner, menawarkan kelezatan jadah tempe yang tak lekang oleh waktu.
Jadah tempe bukan hanya sekadar makanan khas Yogyakarta. Di setiap gigitan, ada sejarah, filosofi, dan kisah pengabdian yang menghubungkan tradisi masa lalu dengan kehangatan masa kini. Jadi, jika Anda berkunjung ke Kaliurang, jangan lupa mencicipi kelezatan kuliner ikonik ini. (**)