Jumat, Mei 1, 2026

Jadi Cawapres Aja Main Hukum, Apalagi Sepak Bola… Disuruh Ngalah Juga Dong

Oleh : Nikmatul Sugiyarto


Dunia memang pangungnya sandiwara. Ya memang sejatinya kita di dunia ini cuma mampir. Mampir ngombe (minum), mampir guyon (bercanda), dan mampir jagongan (ngobrol), dan sebagainya. Kita dibebaskan untuk bertindak seperti ini dan seperti itu, tapi ingat dalang kita Gusti Allah yang menentukan akhir dari rencana panjang kita nan rapi.

Seperti cerita kala itu yang baru dipaparkan anak dari Mahfud MD, yang sekarang menjadi cawapres dari Ganjar Pranowo. Di akun instagramnya dia menceritakan pengalaman asiknya bermain sepakbola dengan teman-temannya.

Ceritanya betul membuat siapapun geli mendengarnya. Bahkan sekedar memikirkan saja membuat muak dan heran hingga mengeluarkan kalimat “harus banget kayak gitu anak presiden yang sedang disiapkan jadi cawapres?”. Tahu kan arahnya kemana.

Ya dalam permainan di lapangan hijau mereka kedatangan personil spesial, wali kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Di akun Roichan Akbar, anak Mahfud berbagi cerita bahwa dilakukan briefing terlebih dahulu sebelum kedatangan mas wali.

Dalam briefing itu, mereka disuruh mengalah jika mas wali yang membawa bola. Pintanya yang briefing mas wali jangan diserobot saat menggiring bola, biarkan anak presiden itu mencetak gol tanpa ada gangguan. Hahaha, tidak habis pikir saya. Untuk tingkatan main bola saja, semua temannya harus mengalah demi anak pak presiden.

Kenapa tidak main sendiri mas wali? Atau main sama Jan Ethes sepertinya lebih asyik, mas. Anak ketiga Mafud MD itu tentu punya maksud mengeluarkan potret sandiwara tadi di medsosnya. Mungkin geram dan ingin menggambarkan saja bagimana lika-liku anak pejabat. Ada yang masih lurus, ada juga yang masih berbelok untuk menikmati kekuasaan.

Dia menuturkan kalimat sindiran mendukung politik dinasti mas wali. Karena selama ini terbukti mendukung ayahnya puluhan tahun, tidak kecipratan apapun. Apalagi dibikinkan istana boneka yang bisa memperlancar dinastinya, tidak pernah. Jangankan nitip ke temen, saudara saja dimarahi habis-habisan.

Lalu dia mengeluarkan pertanyaan menohoknya dengan opsi “Emang boleh terlalu berintegritas itu di Indonesia? Mending nyebrang?”. Haduh, anaknya Pak Mahfud cadas juga ya, menggambarkan cerita mas wali dengan kualitas pejabat di negara ini.

Ya harapannya di tengah mabuknya kekuasaan oleh elite-elite di atas sana, mereka masih mengingat keberadaan rakyat yang harus dilayani dan disejahterakan hidupnya. Bukan malah menyejahterakan kehidupannya sendiri bersama keluarga.

Menurut saya cerita tadi adalah tamparan keras bagi anak muda yang masih tidak tahu malu menggunakan jabatan orang tuanya, untuk naik level dengan cepat tanpa peduli kualitas dirinya.

Hal itu bisa dimaknai juga sebagai kurangnya percaya diri si anak terhadap kemampuannya. Atau memang dia ingin menggunakan aji mumpung dari orang tuanya yang memang memiliki kekuasaan tertinggi negeri ini supaya bisa melewati perjalanan terjal tanpa kesulitan.

Masih terhormat pemuda jompo, generasi sandwich, pemuda sambat, dan sejenisnya. Mereka memang harus tertatih-tatih meraih keberhasilannya, tapi usaha keras itu akan bermuara pada hasil yang baik. Lebih membahagiakan karena dilakukan sendiri tanpa bantuan orang tua. Effortnya lebih kerasa katimbang ngandalin koneksi orang tua.

Hal serupa saya rasakan pula lewat Alam Ganjar. Dia dengan lugas dan berani menyampaikan, bahwa garis besar kekuasaan dalam makna terminology sebagai sesuatu hal yang mempengaruhi banyak orang. Karena dengan kemampuan itu tanggungjawab muncul dengan privilege untuk menuangkan idealisme dan pikiran demi khalayak banyak. Bukan pribadi ataupun kelompok tententu saja, tapi khalayak banyak.

Alam sendiri sudah menyampaikan pendapat besarnya jika kekuasaan tertinggi itu nanti sampai di pundak kanan kiri ayahnya, tidak akan ada bedanya dengan sebelumnya. Dengan lugas dia menyampaikan, posisi anak pejabat yang memiliki kekuasaan tinggi tidak akan mengubahnya menjadi monster yang bernafsu dengan tawaran kenikmatan.

Jauh hari, ayahnya sudah berpesan ikut saja berpartisipasi dan ikut mengenal politik, tapi jangan sentuh hal yang berbau tentang tawaran cuan dan kenikmatan yang melukai rakyat. Itu pasti, dan sudah terealisasi selama ini, terutama selama 10 tahun terakhir. So pasti bisa menjadi bekal kuat untuk beberapa tahun ke depan.

Cerita anak muda ini memang bermacam-macam ragamnya. Apalagi yang saya ceritakan tadi datang dari barisan anaknya para pejabat. Mengingat cerita mas Roichan bersama mas Gibran di lapangan hijau tadi mengingatkanku pada potret kebersamaan mas Alam dan Mas Kaesang, yang pernah main bareng di lapangan hijau beberapa hari yang lalu. Adakah briefing serupa juga? Jangan-jangan mas Alam dan kawan-kawan juga disuruh ngalah demi anak pak presiden juga, hahaha.

Lucu memang cerita di negeri demokrasi ini. Hukum yang berlaku saja diotak-atik demi drama putra mahkota, apalagi aturan main sepakbola. Masalah kecil dong, demi jagoannya pak presiden.

Ya beginilah kondisi demokrasi di negara demokrasi, hukumnya melemah disaat negara kita sendiri juga dipanggil sebagai negeri hukum. Tetap waras ya rakyat biasa, di tengah permainan catur para elit penguasa negeri. Kekuatan dan suara kita tetap yang akan menentukan kalah-menangnya mereka. Salam demokrasi sehat, dimanapun kalian berada.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.